Langsung ke konten utama

Gara-gara Corona, Saya Berkenalan Dengan Saham

Perbedaan Nabung di Bank dengan Reksadana

Tiga pekan terakhir, saya tengah asik menggeluti dunia baru. Sebuah aktivitas yang justru ditemukan di sela-sela 'kebingungan' mengisi waktu di tengah pandemi. Maklum, banyak waktu di kasur. Lalu dunia barunya apa? Dunia investasi! 

Sebetulnya, saya sudah mengenal kata "investasi" sejak lama. Namun selama ini terbatas pada investasi-investasi konvensional saja. Misalnya emas, properti atau mentok-mentok deposito.

Sementara dunia baru yang saya maksud di sini adalah investasi saham. Sesuatu yang sebetulnya sering juga didengar. Sangat akrab di lingkungan saya kerja, -lingkungan wartawan. Namun tidak pernah mencobanya.

Tapi belakangan, berawal dari iseng otak-atik fasilitas Buka Reksa, -platform reksadana milik Bukalapak, saya malah keasikan. Melihat grafik uang naik, atau kesal saat harga saham turun memberi sensasi sendiri. 

Rasa penasaran makin naik. Perlahan, keasikan itu juga sudah membawa saya berselancar ke berbagai platform investasi lainnya. Mulai dari Bibit, Bareksa, hingga Investree. Bawaannya pengen beli unit baru.

Jenis investasi saya pun mulai beragam. Atau dalam bahasa investasi akrab disebut diversifikasi. Mulai dari pasar uang, obligasi, saham, sampai dengan P2P. Ya meskipun nilainya masih "receh-receh".

Ilmu soal diversifikasi sendiri didapat dari berbagai tutorial, maupun pengalaman orang-orang bermain investasi yang banyak saya baca atau tonton. Biasanya, saya cari di YouTube. Prinsipnya, diversifikasi dibutuhkan untuk meminimalisir resiko sekaligus memaksimalkan keuntungan.

Sebagai contoh, jika investasi kita semuanya disimpan di reksadana saham, apalagi yang high risk, duit kita bisa amblas saat harga jatuh. Namun jika sebagian kita simpan di jenis lain yang aman seperti pasar uang, maka kita bisa meminimalisir kerugian.

Lantas, berapa sih keuntungannya main reksadana? 
Ini sangat tergantung dari jenis investasi yang kita pilih. Yang paling aman tentu pasar uang. Di sini duit kita dijamin aman. Nilainya bertambah setiap hari. Peluang down-nya sangat kecil. Rate return dari hasil bagi hasil bisa sampai 8 persen lho. Lebih tinggi dari deposito yang kisaran 5 persen.

Tren Pasar Uang


Sementara untuk obligasi dan saham, keuntungan bisa jauh lebih besar. Tapi sebaliknya, potensi kerugiannya juga besar. Sesuai teorinya. Keuntungan besar berbanding lurus dengan tingkat resikonya.

Oke, berbeda dengan pasar uang yang harganya naik terus, obligasi dan saham sangat fluktuatif. Kadang naik, kadang turun. Semuanya tergantung kondisi market

Kalau kita pintar ya cuan besar. Misal membeli saat harga rendah dan bisa jual saat harga tinggi. Dan sebaliknya.

Tren Harga Saham


Tren harga obligasi


Oleh karenanya, untuk investasi jenis ini, kita perlu kemampuan membaca perekonomian. Baik nasional maupun global. Banyak-banyak baca berita. Tapi di situasi pandemi seperti sekarang ini, jenis ini sangat beresiko. Sebab, market tengah terpuruk.

Oh ya, pasar uang, obligasi dan saham juga ada yang versi syariah. Versi ini bisa digunakan untuk orang-orang yang khawatir dengan potensi riba.

Lanjut. Ada yang lebih untung? Ada. Yakni P2P atau peer to peer lending. Ini jenis investasi paling menggiurkan menurutku. Returnnya bisa 12 sampai 20 persen. Salah satu platform yang bisa kita dipakai adalah aplikasi Investree.

P2P berbeda dengan tiga jenis investasi yang saya sebutkan di atas. Kalau ketiga jenis itu cara kerjanya membeli unit/lembar saham perusahaan di lantai bursa. Sementara P2P ini semacam kita peminjaman dana.

Contoh, ada perusahaan BUMN yang sedang membangun proyek. Nah kita bisa memberi pinjaman dengan kurun waktu tertentu. Ada yang 30 hari, 61 hari dan seterusnya. Saat jatuh tempo, mereka akan mengembalikan dengan jumlah lebih sesuai kesepakatan diawal. Bisa 12 - 20 persen. Jenis ini juga ada versi syariahnya.

Tapi ya namanya keuntungan besar, tentu bukan berarti tanpa resiko ya. Lalu apa resikonya? Telat bayar atau bahkan Gagal bayar! Haha.

Oleh karena itu, untuk menggunakan investasi jenis ini, kita harus hati-hati. Sebelum memutuskan memberikan pembiayaan, kita perlu mengecek track record perusahaan tersebut. Kebetulan, Investree sendiri menyediakan informasi itu.

Kuncinya, pilihlah perusahaan dengan track record pengembalian dana tepat waktu yang baik. Dengan demikian, kita ga perlu was-was menunggu uang kita balik.

Selain itu, investasi jenis ini sebaiknya menggunakan uang yang bener-bener nganggur. Karena ada kemungkinan telat bayar. Kalau uang aktif ya bahaya. Takutnya kita butuh malah telat pencairan.

Di Investree sendiri, kita bisa memulai P2P dengan angka investasi minimal Rp. 1 juta. Relatif lebih tinggi dibanding saham, obligasi, atau pasar uang yang mematok minimal Rp 10 ribu - 100 ribu.

Sebagai investor pemula, dalam tiga pekan saya sendiri memulai dengan menaruh Rp 7 juta ke lantai bursa. Sedang coba-coba sambil belajar. Terbagi di saham, obligasi, pasar uang dan P2P. Sejauh ini nilainya sudah bertambah. Tipis-tipis. Alhamdulillah.

Investasi ini tak melulu cuan. Buat saya pribadi, investasi bertujuan agar uang tidak tergerus inflasi. Kalau inflasi per tahun 3 persen, sementara uang kita tumbuh 5 persen saja, itu artinya nilai uang kita tidak turun. Dan ini tidak bisa dengan menyimpan uang di bank.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Musikalisasi Lutung kasarung :Dikemas Modern, Relevan dengan Generasi Kekinian

  Musikalisasi Lutung Kasarung membuktikan bahwa sentuhan modernisasi dapat membuat cerita rakyat tetap relevan dan dinikmati lintas generasi. LUTUNG Kasarung adalah satu dari sekian kisah klasik yang kerap ditampilkan dalam pentas musikal. Namun, kolaborasi Indonesia Kaya-EKI Dance Company memiliki perspektif yang lebih modern. Musikalisasi Lutung Kasarung yang dipentaskan di Galeri Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta itu menyuguhkan kisah legendaris dengan sentuhan lebih segar. Konsepnya dapat memikat generasi muda tanpa meninggalkan akar budaya dan pesan moral. Mengambil latar Kerajaan Pasir Batang, pertunjukan itu mengisahkan seekor monyet ajaib yang menolong Putri Purbasari. Alur klasik itu berkelindan dengan properti canggih di panggung. Salah satunya kehadiran layar LED yang membangun nuansa hutan rimbun, istana, dan dinamika suasana lewat teknologi proyeksi visual. Musik pun begitu. Bebunyian khas Sunda dan musik lain berpadu harmonis dengan irama elektronik serta o...

Ida Budhiati, Mantan Anggota KPU-DKPP yang Rajin Memberikan Edukasi Pemilu

Bicara pemilu, sulit untuk melupakan sosok Ida Budhiati. Perempuan asal Semarang ini cukup lama berkecimpung di lembaga penyelenggara pemilu. Mulai KPU (Komisi Pemilihan Umum) hingga DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu).  Nah, apa kesibukannya setelah tak lagi di dua lembaga tersebut? Setelah selesai di DKPP RI tahun 2022, apa aktivitas ibu sekarang? Saya mengajar di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Jadi aktivitasnya ya mengajar di kampus, kemudian diskusi sama mahasiswa. Terus melakukan kegiatan pengabdian masyarakat dan melakukan penelitian, menulis jurnal ilmiah. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat banyak tuh yang masih berkaitan dengan isu pemilu dan demokrasi. Misalnya apa saja? Kita masih sering bekerja sama dengan KPU, Bawaslu, DKPP, membangun awareness masyarakat dalam bentuk kegiatan pendidikan pemilih untuk berpartisipasi melakukan pengawasan. Kemudian melakukan advokasi representasi keterwakilan perempuan bersama dengan para penggiat pemilu. Juga me...

Peran Penting Islam Dalam Hukum Humaniter Internasional

 Judul Buku     : Islam dan Hukum Humaniter Internasional Penulis             : Komite Internasional Palang Merah(ICRC) Penerbit           : Mizan Tahun              : 2012 Tebal halaman : XIV + 468 Halaman ISBN               : 978-979-433-696-0 Di dunia ini, benturan peradaban selalu terjadi. Tidak sedikit yang memilih kontak fisik sebagai bentuk penyelesaian. Berbagai peperangan yang bergejolak dan tercatat dalam sejarah telah mengakibatkan berbagai bencana kemanusiaan yang mengenaskan. Tengok saja konflik yang terjadi di palestina hingga saat ini, mulai dari penyerangan membabibuta -tidak mengindahkan masyarakat sipil, hingga perlakuan terhadap tawanan secara tidak man...