Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pendidikan

Di Sekolah Pagesangan, Kebun, Ladang, dan Dapur Adalah Ruang Kelas

  Sekolah Pagesangan mengembalikan apa yang hilang dari sekolah formal: kesinambungan antara pendidikan dan realitas sekitar. FOLLY AKBAR, Gunungkidul, Jawa Pos --- DUA belas tahun sudah Sekolah Pagesangan (SP) berjalan. Selama itu pula, kebun, ladang, dan semua lingkungan yang ada di desa tempat mereka berdiri menjadi ruang kelas. ”Pagesangan itu artinya hidup atau kehidupan. Sekolah ini memiliki misi mendekatkan anggota dengan realitas atau kehidupan nyata di desanya,” kata Diah Widuretno, sang penggagas, kepada Jawa Pos Kamis pekan lalu (11/2). Berdiri di Desa Girimulyo, Gunungkidul, Jogjakarta, pada 2009, SP berfokus pada pendidikan pertanian. Pilihan itu diambil karena dinilai paling relevan dan kontekstual dengan kondisi riil masyarakat di desa tersebut. Tak ada yang namanya seragam di sekolah itu. Di sekolah informal tersebut, para murid pun lebih banyak berpraktik di luar. Dari kebun sampai dapur. Teori hanya diberikan secukupnya. Desain pembelajaran dila...

Kurikulum Baru dan Asa Pemberantasan Korupsi

Gonjang-ganjing penerapan kurikulum 2013 yang sudah berjalan tahun ini kembali menyeruak. Hal ini tidak lepas dari munculnya berbagai persoalan yang terjadi di lapangan, baik itu persoalan yang sifatnya teknis maupun filosofis. Tapi terlepas dari berbagai persoalan yang melanda, penerapan kurikulum 2013 yang digadang-gadang mengedepankan aspek pendidikan karakter sangatlah menarik untuk kita kaji bersama. Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh mengakui jika perumusan kurikulum 2013 merupakan salah satu upaya menjawab tantangan zaman dengan berbagai persoalan yang menggelayutinya, tak terkecuali persoalan degradasi moral yang tengah melanda bangsa Indonesia. Jika memang benar demikian, ini akan menjadi secercah harapan di tengah mimpi kita melihat kembalinya fungsi pendidikan sebagai pembentuk karakter bangsa yang bukan hanya berfungsi sebagai pengembangan keilmuan, sarana transfer ilmu pengetahuan, penguasaan life skill dan teknologi, melainkan...

Hanya Demi Solidaritas Semu

Peristiwa tawuran antar pelajar yang berujung pada jatuhnya korban kembali terjadi di Sleman, Yogyakarta. Ulah brutal “kaum terdidik” ini bukan hanya menodai citra Jogja sebagai kota pelajar, melainkan juga mencederai wibawa pendidikan sebagai wadah pencetak intelektual (bukan pencetak preman). Jika tidak ada upaya strategis dari komponen terkait, peristiwa serupa niscaya akan terus terulang kembali. Di Indonesia, tawuran antar pelajar seolah sudah menjadi budaya tersendiri. Ini tidak lepas dari “keberhasilan” para senior mentransformasikan benih-benih permusuhan kepada adik-adiknya. Seluk-beluk sejarah permusuhan antar sekolah sudah diajarkan tanpa komando. Sekolah mana yang kawan, sekolah mana lawan dikenalkan secara fasih. Dan semua itu terjadi di tengah “kegagalan” para guru dalam menanamkan nilai-nilai persaudaraan kepada para siswa.

Gerakan Mahasiswa Perlu Inovasi

BBM telah resmi naik, dan aksi penolakan kenaikan harga BBM telah berakhir. Dimana bentrokan antara mahasiswa dengan masyarakat di beberapa tempat menjadi “buah tangan” dari aksi tersebut. Hal itu merupakan fenomena baru dalam demokrasi di Indonesia. Dimana masyarakat mulai berani mengkonfrontasi langsung aksi mahasiswa yang sebenarnya membela kepentingan masyarakat itu sendiri. Keresahan masyarakat terhadap aksi mahasiswa dilandasi pada citra demonstrasi yang buruk. Yang mana kerap berujung pada anarkisme, bahkan tidak sedikit diantaranya yang justru merugikan kepentingan publik. Akibatnya, cita-cita mulia yang diusung mahasiswa “kalah populer” dibanding dampak kericuhan yang kerap terjadi. Selain itu, cara pandang masyarakat sekarang sudah sangat empiris, artinya apa yang terlihat menjadi realitas yang diyakini masyarakat.

UN Tak Layak dipertahankan

Dalam beberapa minggu ke depan, dunia pendidikan di Indonesia akan menggelar hajatan besar, yakni Ujian Nasional(UN) yang ke sembilan. Di awali dari tingkat SMA, SMP hingga terakhir di tingkatan SD. UN merupakan pengadilan terakhir yang memutuskan lulus atau tidaknya proses yang dilakukan siswa setelah beberapa tahun sekolah. Setidaknya, itu lah kesan yang melekat di benak masyarakat, meskipun pemerintah mengklaim UN sebagai sarana pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia. UN merupakan bagian dari penyelenggaraan pendidikan yang didasarkan pada Pasal 35 Ayat (1) UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.  Namun, penyelenggaraan UN sering dipersoalkan, karena dinilai bertentangan dengan Pasal 58 Ayat (1) yang mengatakan ”Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan”. Perdebatan yang terjadi hingga kini adalah adanya ketentuan bahwa UN menjadi penen...

Langkah Baik MK Hapus RSBI

Dari awal berdirinya, sekolah RSBI/SBI terus menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Selama ini, pemerintah menjadikan undang-undang sebagai alat legitimasi pendirian sekolah bertaraf internasional. Tapi tidak sedikit orang yang justru menganggap RSBI sebagai bentuk pelanggaran undang-undang. Karena dalam implementasinya RSBI menciptakan kasta pendidikan, padahal undang-undang telah menyatakan dengan jelas bahwa memperoleh pendidikan yang layak adalah hak seluruh rakyat Indonesia. Dan pembubaran RSBI yang dilakukan Mahkamah Konstitusi merupakan oase bagi masyarakat kecil.

Revitalisasi Pendidikan Non-Formal

Sebelum mengenal pendidikan formal seperti saat ini, Indonesia memiliki budaya pendidikan non-formal yang memiliki peran besar dalam sejarah peradaban di nusantara. Secara sederhana, pendidikan non-formal diartikan sebagai pendidikan yang tidak memiliki struktur, regulasi dan kurikulum yang kaku. Materi pembelajaran, tempat dan waktu pun bisa disesuaikan atas dasar kesepakatan bersama. Di Indonesia, pendidikan non-formal mulai marak dilakukan pasca masuknya ajaran Islam. Wali songo dan para kyai kala itu kerap mengupulkan jamaah setelah shalat berjamaah. Dalam forum tersebut, berbagai ilmu khususnya ilmu agama di ajarkan kyai kepada masyarakat. Orang-orang seperti Hasyim Asyari ataupun Ahmad Dahlan, merupakan produk dari model pendidikan non-formal tersebut. Bahkan dalam masa penjajahan, pendidikan non-formal memiliki peran yang sangat krusial. Seperti kita ketahui, pada masa itu sekolah hanya milik bangsa kulit putih dan pribumi yang kaya. Mengenyam pendidikan formal merupakan...

Gonta-Ganti Kurikulum

Ganti pemerintah, ganti pula kebijakanya. Itulah fenomena yang kerap dilakukan pemangku kebijakan di Indonesia, tak terkecuali Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan(Kemendikbud). Mulai tahun ajaran 2013, Kemendikbud akan merubah kurikulum Sekolah Dasar(SD), Sekolah Menengah Pertama(SMP), Sekolah Menengah Atas(SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan(SMK). Perubahan ini merupakan yang kesebelas kalinya setelah pernah dilakukan pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 1999, 2004 dan 2006. Jika mengacu pada sebuah sistem demokrasi, menelurkan kebijakan baru adalah hal yang wajar. Tapi yang menjadi pertimbangan, apakah hanya sebatas menunjukan gebrakan baru atau memang atas dasar kebutuhan. Padahal selain negara harus menggelontorkan 49 miliyar, perubahan ini juga merugikan penerbit buku. Para guru yang berlatar pendidikan IPA atau IPS di tingkatan SD pun terpaksa gigit jari mengingat kedua mata pelajaran tersebut dihapuskan.

Kontribusi Pemuda Menambah Persoalan Bangsa

Beberapa hari lagi, peristiwa sumpah pemuda yang dideklarasikan pada 28 oktober 1928 akan menyentuh usia 84 tahun. Di usia yang sudah tidak muda tersebut, semangat sumpah pemuda perlahan mulai tergerus arus modernitas dengan segala keglamoranya. Poin-poin yang ditelurkan sumpah pemuda, semakin sulit untuk diterapkan dalam kehidupan. Hingga tahun 2010, jumlah populasi remaja dan pemuda di Indonesia mencapai 63,4 juta. Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat di banding tahun 1970-an(34 juta). Saat ini separuh dari mereka hidup di derah perkotaan. Di tengah kepengapan ruang yang semakin sempit, mereka hidup berkelompok dan berkompetisi di tengah tekana n hidup yang semakin berat. Sejarah mencatat pemuda memiliki peran yang strategis dalam setiap perubahan sosial. Peristiwa sumpah pemuda, runtuhnya orde lama, malaria 67, hingga reformasi 98 merupakan momen-momen penting yang tidak pernah lepas dari peran pemuda. Tapi jika kita berkaca pada konteks saat ini, prestasi yang diberikan...

Nilai Itu di Hati

Adanya kebijakan pemerintah yang membuka kran besar pendaftaran Perguruan Tinggi Negeri(PTN) melalui jalur undangan menyisakan pro kontra di kalangan civitas akademisi. Dengan kebijakan ini, maka nilai raport dan ujian nasonal(UN) memiliki peran penting dalam upaya siswa menembus PTN. Tentu yang menjadi kekhawatiran kita kelak adalah maraknya manipulasi nilai raport secara jor-joran, hingga kecurangan dalam UN yang semakin parah. Dan yang menjadi pertanyaan adalah apakah “pemaksaan sistem” dalam kasus UN belum cukup untuk membebani sekolah? Dalam salah satu adegan pada film Laskar Pelangi , ada satu perkataan kepala sekolah SD Muhammadiyah Belitong yang perlu kita renungkan bersama yakni ”nilai itu di hati, bukan di angka”. Jika dipahami secara luas, perkataan itu mengingatkan kita jika kemampuan siswa tidak bisa di lihat dari segi angka belaka. Apalagi tidak adanya standar penilaian yang jelas dalam pendidikan kita, yang tampak dalam deretan angka di raport hanyalah intervensi da...

Kuliah Itu Memanusiakan Manusia

Jika di ibaratkan, perasaan yang kita rasakan saat lulus SMA bagaikan dua sisi mata uang, disatu sisi kita bahagia bisa lulus tapi disisi lain kita akan merasakan “kegalauan” yang tinggi. Bagaimana tidak, lulus SMA adalah gerbang menuju kehidupan yang sebenarnya, dimana setiap tindakan yang kita lakukan akan menentukan nasib kita kedepan. Sebagian orang terpaksa memilih bekerja akibat kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Dan mayoritas mereka mendambakan bisa melanjutkan ke perguruan tinggi dengan harapan bisa memperoleh kehidupan yang “lebih baik”. Bekerja ditempat yang layak dengan penghasilan yang cukup adalah dambaan setiap manusia. Pandangan itulah yang selama ini dimanfaatkan perguruan tinggi dalam mempromosikan lembaganya kepada calon mahasiswa. Ditambah lagi dengan bursa lowongan kerja yang mayoritas mensyaratkan lulusan S1, semakin menciptakan stereotip di masyarakat bahwa “jika ingin sukses maka kuliahlah”. Memiliki semangat untuk bisa menempuh pendidikan setinggi...

Kuliah? Pilih Kampus Seimbang

Lulus SMA adalah hal yang menyenangkan, tapi masalah tidak selesai hanya karena kita mampu melewati Ujian Nasional. Bahkan harus kita akui, lulus SMA adalah gerbang awal menuju kehidupan yang sebenarnya, dimana setiap langkah akan sangat menentukan arah dari masa depan kita kelak. Sebagian orang terpaksa memilih bekerja akibat kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Dan mayoritas mereka mendambakan bisa melanjutkan ke perguruan tinggi dengan harapan bisa memperoleh kehidupan yang “lebih baik”. Tapi pertanyaanya, perguruan tinggi apa yang patut kita pilih. Tak bisa dipungkiri, salah satu alasan kita melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi adalah demi mencapai kesuksesan. Ari Ginanjar dalam konsep ESQ mengungkapkan bahwa kecerdasan intelektual(IQ) hanya mempengaruhi 20% kesuksesan seseorang, sedangkan 80% kesuksesan sangat dipengaruhi oleh kecerdasan emosional(EQ) dan kecerdasan spiritual(SQ) yang dimiliki. Itu artinya dalam mencari sebuah perguruan tinggi jangan hanya memilih k...

Saatnya Rektor Menjadi Oposisi Pemerintah

Sebagai anak bangsa, sudah semestinya menginginkan yang terbaik untuk bangsanya, tak terkecuali para rektor. Meskipun rektor identik dengan akademisi, tapi bukan berarti mereka dilarang berbicara politik atau mengkritik pemerintahan. Atas dasar itulah, dibentuknya Forum Rektor Indonesia(FRI) pada 7 November 2011 atau beberapa bulan pasca reformasi, yang tentunya semakin meramaikan panasnya demokrasi di Indonesia. Pada nyatanya banyak pihak yang tidak suka dengan turut campurnya rektor ke dunia politik. Adanya UU Sisdiknas 2009 yang menyebutkan secara struktural rektor berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang secara otomatis di bawah Presiden, memaksa rektor harus sejalan dengan pemerintah. Tapi jika melihat kondisi genting bangsa yang sudah sangat menkhawatirkan, apa salahnya sedikit nakal demi kebaikan, toh apa salahnya mengingatkan yang salah? Ibarat cerita legenda, sudah saatnya semua pendekar turun gunung dalam situasi darurat.

Pendidikan anti korupsi. sekedar teori?

OLEH : FOLLY AKBAR Mulai tahun ajaran baru 2012/2013 nanti, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan(Kemendikbud) berencana memasukan kurikulum pendidikan anti-korupsi dalam pembelajaran siswa mulai dari tingkat SD hingga SMA. Kebijakan ini merupakan buah dari kerjasama Kemendikbud dengan KPK beberapa waktu lalu. Langkah ini dilakukan untuk membunuh kaderisasi koruptor sejak dini mungkin, dengan harapan akan lahir generasi yang alergi dengan tindak korupsi. Dari segi namanya, pendidikan anti-korupsi bertujuan mengenal apa itu korupsi serta dampaknya diri sendiri, keluarga, orang lain dan bangsa. Sehingga muncul pemahaman serta perubahan watak dan mental untuk tidak melakukan tindak korupsi. Namun hakikatnya pendidikan bukanlah sebatas teori belaka. Teori memang penting tapi yang tak kalah pentingnya adalah adanya contoh bahwa perilaku korupsi akan mendapatkan hukuman setimpal yang bisa membuat pelakunya menderita. Artinya, pendidikan anti-korupsi akan sangat membumi dan menemukan ruhnya a...

Revitalisasi Peran Pers Mahasiswa

OLEH : FOLLY AKBAR Kalau benar bahwa pers mahasiswa mempunyai hakikat yang tidak terpisahkan dengan kehidupan mahasiswa, maka ia adalah sebuah ruh. Ekspresinya bisa tebal ataupun tipis, tetapi secara eksistensial ia ada: menyelinap kesana-kemari. Suatu saat bisa teramat lesu, tetapi saat yang lain bisa sangat bergairah (BALAIRUNG, Edisi 13/Tahun V/1991) Pers dan mahasiswa adalah dua elemen yang memiliki peranan besar dalam sejarah Indonesia. Kapasitas pers sebagai media menjadikanya media paling efektif untuk menggerakan massa. Sedangkan mahasiswa yang secara psikologi menurut Aristoteles adalah kaula muda mengalami suatu minat terhadap dirinya, minat terhadap sesuatu yang berbeda atas lingkungan dan realitas kesadaran akan dirinya. Disamping itu Frank. A dalam ungkapanya menyatakan Mahasiswa adalah suatu kelompok elit marjinal dalam lingkungan suatu dilema “marginal elites”. Ini mengakibatkan karakter mahasiswa menjadi radikal, kritis dan suka dengan perubahan. Ketika  d...

Revitalisasi Budaya Penelitian

OLEH : FOLLY AKBAR Dalam penyusunan jurnal ilmiah, ada dua aktivitas kunci yang tidak bisa di pisahkan yaitu penelitian dan menulis. Jika ditimbang, di antara keduanya yang paling memberatkan adalah penelitian. Selain sulit menentukan masalah, pengumpulan bahan yang tidak sedikit, observasi yang menuntut ketelitian ekstra hingga dana dan waktu yang banyak merupakan rangkaian proses panjang penelitian. Tak heran jika intensitas penelitian yang dilakukan civitas akademisi tidak menunjukan peningkatan, karena hal tersebut merupakan momok terus dihindari. Fakta di atas bukanlah hal yang menggembirakan, karena kita tahu penelitian merupakan tahapan wajib dalam upaya memecahkan sebuah permasalahan. Hal ini sejalan dengan tujuan di adakanya pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan yang natinya berefek pada sejahteranya manusia(memanusiakan manusia). Nah, dengan adanya kewajiban menyusun jurnal ilmiah, semoga budaya penelitian kembali marak di dunia pendidikan sehingga dapat membantu meme...

Selamatkan Jurusan Agama di PTAI

OLEH : FOLLY AKBAR Perkembangan teknologi dan globalisasi sangat memberikan dampak yang teramat besar bagi kehidupan manusia. Dampaknya begitu terasa di semua lini kehidupan tak terkecuali dalam bidang pendidikan. Kondisi zaman yang segala aktivitasnya menggunakan hasil teknologi memaksa institusi pendidikan khususnya Perguruan Tinggi(PT) untuk mencetak para ilmuwan demi tuntutan pasar. Atas tuntutan pasar itulah, mayoritas PT berlomba-lomba membuka jurusan yang sifatnya sains dan ilmu sosial. Bahkan Perguruan Tinggi Agama Islam(PTAI) turut banting setir dengan membuka jurusan yang sifatnya tidak agamis lagi. Banyak STAIN konversi menjadi IAIN, yang IAIN ingin konversi menjadi UIN yang notabenya boleh membangun fakultas umum. Sehingga potensi untuk bangkrut relatif lebih kecil mengingat jurusan umum lebih diminati ketimbang jurusan agama.

Melacak Bentuk Mahasiswa Ideal

OLEH : FOLLY AKBAR Menjadi mahasiswa yang ideal merupakan dambaan semua mahasiswa dimanapun dia berada. Selama ini, indikasi mahasiswa yang ideal adalah mahasiswa yang berprestasi dalam hal akademisi, militan dalam berorganisasi dan tanggap dengan penderitaan rakyat yang tertindas sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai golongan terdidik. Tapi mayoritas mahasiswa saat ini merasa skeptis dan merasa bahwa semua itu mustahil untuk terwujud. Yang ada dibenak mereka adalah, jika harus berprestasi dalam hal akademik maka tinggalkan jauh-jauh kesibukan organisasi dan fokus berkonsentrasi dalam belajar. Bagitupun sebaliknya, jika ingin militan di organisasi maka harus mengesampingkan tugas akademik.

KKN Bukan Formalitas

OLEH : FOLLY AKBAR Selain untuk memenuhi tridarma pendidikan, gelar mahasiswa sebagai agent of change memaksanya untuk berperan dalam dinamika sosial. Salah satu upaya yang dilakukan untuk memenuhi dua tuntutan tersebut adalah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata(KKN). Jika melihat sejarah dimana pergerakan mahasiswa masih begitu aktif, mungkin dulu KKN merupakan hal yang biasa, karena hampir setiap saat, waktu yang dimiliki mahasiswa dihabiskan untuk menyelesaikan masalah sosial. Tapi ditengah kondisi pergerakan mahasiswa yang sudah tidak masiv, bahkan cenderung apatis, KKN bisa dikatakan sebagai satu-satunya media yang digunakan untuk menjaga konsistensi mahasiswa dalam peranan sosialnya. Jadi pelaksanaan KKN harus mampu dimaksimalkan dengan baik.

Tumbal Kuliah Mahal

OLEH : FOLLY AKBAR Menginjak satu semester pelaksanaan perkuliahan yang di lakukan mahasiswa baru, keluh-kesah masih kerap terlontar dari mulut mereka. Diantara banyaknya faktor penyebabnya, mayoritas mereka yang mengeluh karena tidak masuk di universitas yang diharapkanya ketika SMA dulu. Gagal kuliah di universitas yang di inginkan adalah hal perih yang tidak diharapkan setiap mahasiswa. Akan tetapi, ketika keadaan telah memaksanya untuk demikian, sulit rasanya untuk menampikan pil pahit tersebut. Dan pada akhirnya kuliah di universitas yang tidak di inginkan sama sekalipun harus dijalani “tak ada rotan, akarpun jadi”.