Langsung ke konten utama

Revitalisasi Peran Pers Mahasiswa

OLEH : FOLLY AKBAR
Kalau benar bahwa pers mahasiswa mempunyai hakikat yang tidak terpisahkan dengan kehidupan mahasiswa, maka ia adalah sebuah ruh. Ekspresinya bisa tebal ataupun tipis, tetapi secara eksistensial ia ada: menyelinap kesana-kemari. Suatu saat bisa teramat lesu, tetapi saat yang lain bisa sangat bergairah(BALAIRUNG, Edisi 13/Tahun V/1991)
Pers dan mahasiswa adalah dua elemen yang memiliki peranan besar dalam sejarah Indonesia. Kapasitas pers sebagai media menjadikanya media paling efektif untuk menggerakan massa. Sedangkan mahasiswa yang secara psikologi menurut Aristoteles adalah kaula muda mengalami suatu minat terhadap dirinya, minat terhadap sesuatu yang berbeda atas lingkungan dan realitas kesadaran akan dirinya. Disamping itu Frank. A dalam ungkapanya menyatakan Mahasiswa adalah suatu kelompok elit marjinal dalam lingkungan suatu dilema “marginal elites”. Ini mengakibatkan karakter mahasiswa menjadi radikal, kritis dan suka dengan perubahan.
Ketika  dua elemen tersebut di satukan, tentu akan melahirkan sesuatu yang meengerikan. Visi jurnalistik ditunaikan untuk memberikan liputan yang memenuhi kaidah-kaidah jurnalisme tertentu diramu dengan visi idealistik mereka untuk melakukan kontrol sosial akan melahirkan suatu bentuk media perjuangan baru: mewsletter perjuangan. Dan ini dibuktikan dengan apa yang diberikan kawan mahasiswa(pers mahasiswa) sepanjang sejarah Indonesia. Gerakan Mahasiswa sepanjang waktu tidak lepas dari pengaruh para aktivis Pers mahasiswa. Karena kita percayai disini, Pers mahasiswa adalah suatu alat perjuangan bagi kaum aktivis gerakan mahasiswa, corong kekuatan dalam menyalurkan aspirasi kritis seorang tunas bangsa, dan kita akan melihat hubungan diantara keduannya sangat erat.
Pers mahasiswa di Indonesia sudah ada sebelum masa kemerdekaan, pers mahasiswa waktu itu menjadi alat untuk menyebarkan ide-ide perubahan yang menitik beratkan pada kesadaran rakyat akan pentingnya arti sebuah kemerdekaan. Dalam era ini bermunculan Hindia Putra (1908), Jong Java (1914), Oesaha pemoeda (1923) dan Soeara Indonesia Moeda (1938) yang secara gigih dan konsekuen atas keberpihakannya yang jelas pada perjuangan kemerdekaan.
Memasuki orde baru pers mahasiswa mulai menggeliat di setiap perguruan tinggi, puluhan pers mahasiswa muncul akibat ulah rezim orde baru yang otoriter. Kelahiranya memiliki peranan yang tidak bisa dipandang sebelah mata dalam menggagas gerakan social dan demokrasi di Indonesia. Ketika masa orde baru pers professional tidak memiliki taring, pers mahasiswa lahir sebagai kancah pemikiran alternative. Hal ini dibuktikan dengan jayanya Harian Kami, Salemba, Kampus, Gelora Mahasiswa, atau Mahasiswa Indonesia—generasi kedua pers mahasiswa yang pernah mencapai oplah puluhan ribu, bahkan menyaingi Kompas kala itu?
Keberhasilan yang Mahal
Ketika pers mahasiswa turut andil memperjuangkan lahirnya demokrasi, nyatanya keberhasilanya harus dibayar mahal dengan kian redupnya pers mahasiswa dimasa reformasi. Dengan tumbangnya orde baru yang berarti lahirnya demokrasi secara utuh, kondisi ini menggeliatkan media professional untuk unjuk gigi setelah 4 dasawarsa tertidur dalam tempurung penguasa. Hal sebaliknya terjadi di pers mahasiswa. Setelah sekian lama berlari akhirnya ada masa bagi pers mahasiswa untuk mulai redup ketika tidak mampu bersaing dengan pers umum. Dan masa Reformasi merupakan era baru perjuangan aktivis pers mahasiswa.
Benar saja, saat ini pers mahasiswa sudah tidak lagi memiliki taji di luar kampus. System demokrasi membuat mahasiswa nyaman dan tidak merasa tertekan seperti masa orba. Ini berakibat dengan menurunya kedinamisan aktivis pers mahasiswa. Dengan potensi yang demikian, akan semakin sulit bagi pers mahasiswa bersaing dengan pers umum yang dikerjakan oleh tangan-tangan yang professional.
Jika pada masa romantisme produksi berita pers mahasiswa menjangkau isu nasional, saat ini geliatnya hanya sekitar kampus. Sekmen pembacanya pun mengalami penurunan seiring melemahnya minat baca mahasiswa. Celakanya lagi, eksistensinya yang tidak dianggap sebagai insan pers, mengakibatkan pers mahasiswa di anggap sebelah mata. Pelakukan kesar dan anarkis diterima aktivis pers mahasiswa ditengah tidak adanya payung hukum yang melindunginya.  
Tidak hanya disitu, saat ini pers mahasiswa hanya dipersepsi sebagai salah satu unit kegiatan mahasiswa yang dinamikanya bergantung pada dinamika universitas. Modal produksi hampir semuanya berumber dari universitas sehingga mati jika saluran modal itu dihentikan. Kalau kata pribahasa, sudah jatuh tertimpa tangga.
Keberhasilan pers mahasiswa dalam membantu menumbuhkembangkan civil society di Indonesia seperti sedia kala akan dapat berhasil dengan baik apabila ia mampu memenuhi validitas keshahiannya. Artinya pers mahasiswa harus mampu tampil secara profesional sebagaimana pers umum. Tanpa profesionalitas itu, pers mahasiswa memang hanya akan menjadi laboratorium jurnalistik belaka. Selain itu, perlu adanya konsolidasi antara pers mahasiswa dengan pers umum, agar keberadaanya di akui dewa pers. Sehingga aka nada paying hokum yang melindungi langkahnya.
Dalam terkikisnya budaya idealitas masyarakat khususnya mahasiswa yang sudah demikian jauh, penulis mengajak seluruh aktivis pers mahasiswa di Indonesia untuk kembali menengok romantisme sejarah pers mahasiswa Indonesia secara proporsional, lalu kita sesuaikan dengan konteks zaman dimana kita berproses saat ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Musikalisasi Lutung kasarung :Dikemas Modern, Relevan dengan Generasi Kekinian

  Musikalisasi Lutung Kasarung membuktikan bahwa sentuhan modernisasi dapat membuat cerita rakyat tetap relevan dan dinikmati lintas generasi. LUTUNG Kasarung adalah satu dari sekian kisah klasik yang kerap ditampilkan dalam pentas musikal. Namun, kolaborasi Indonesia Kaya-EKI Dance Company memiliki perspektif yang lebih modern. Musikalisasi Lutung Kasarung yang dipentaskan di Galeri Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta itu menyuguhkan kisah legendaris dengan sentuhan lebih segar. Konsepnya dapat memikat generasi muda tanpa meninggalkan akar budaya dan pesan moral. Mengambil latar Kerajaan Pasir Batang, pertunjukan itu mengisahkan seekor monyet ajaib yang menolong Putri Purbasari. Alur klasik itu berkelindan dengan properti canggih di panggung. Salah satunya kehadiran layar LED yang membangun nuansa hutan rimbun, istana, dan dinamika suasana lewat teknologi proyeksi visual. Musik pun begitu. Bebunyian khas Sunda dan musik lain berpadu harmonis dengan irama elektronik serta o...

Peran Penting Islam Dalam Hukum Humaniter Internasional

 Judul Buku     : Islam dan Hukum Humaniter Internasional Penulis             : Komite Internasional Palang Merah(ICRC) Penerbit           : Mizan Tahun              : 2012 Tebal halaman : XIV + 468 Halaman ISBN               : 978-979-433-696-0 Di dunia ini, benturan peradaban selalu terjadi. Tidak sedikit yang memilih kontak fisik sebagai bentuk penyelesaian. Berbagai peperangan yang bergejolak dan tercatat dalam sejarah telah mengakibatkan berbagai bencana kemanusiaan yang mengenaskan. Tengok saja konflik yang terjadi di palestina hingga saat ini, mulai dari penyerangan membabibuta -tidak mengindahkan masyarakat sipil, hingga perlakuan terhadap tawanan secara tidak man...

Ida Budhiati, Mantan Anggota KPU-DKPP yang Rajin Memberikan Edukasi Pemilu

Bicara pemilu, sulit untuk melupakan sosok Ida Budhiati. Perempuan asal Semarang ini cukup lama berkecimpung di lembaga penyelenggara pemilu. Mulai KPU (Komisi Pemilihan Umum) hingga DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu).  Nah, apa kesibukannya setelah tak lagi di dua lembaga tersebut? Setelah selesai di DKPP RI tahun 2022, apa aktivitas ibu sekarang? Saya mengajar di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Jadi aktivitasnya ya mengajar di kampus, kemudian diskusi sama mahasiswa. Terus melakukan kegiatan pengabdian masyarakat dan melakukan penelitian, menulis jurnal ilmiah. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat banyak tuh yang masih berkaitan dengan isu pemilu dan demokrasi. Misalnya apa saja? Kita masih sering bekerja sama dengan KPU, Bawaslu, DKPP, membangun awareness masyarakat dalam bentuk kegiatan pendidikan pemilih untuk berpartisipasi melakukan pengawasan. Kemudian melakukan advokasi representasi keterwakilan perempuan bersama dengan para penggiat pemilu. Juga me...