Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Perjalanan

Saat Anakku Berusia Satu Tahun

Hari ini 3 Juni 2020, Giyanta Sena genap berusia satu tahun. Itu artinya, sudah 12 purnama, serta 365 kali pergantian malam dan siang dia lewati. Lengkap dengan berbagai sukanya. Juga dukanya. Diusia satu tahun, dia telah banyak berubah. Dia yang dulu berbobot 2,8 kilogram, kini nyaris 10 kilogram. Hanya kurang sedikit. Posturnya pun tumbuh pesat. Hampir dua kali lipat. Dari 47 centimeter menjadi 80 centimeter. Sekarang, dia bukan lagi bayi. Dia sudah tumbuh menjadi balita. Untuk orang dewasa, rentang waktu satu tahun mungkin relatif tidak lama. Tidak banyak yang berubah. Apalagi sangat drastis. Paling rambutnya yang tumbuh. Botak jadi gondrong. Atau kukunya. Pendek jadi panjang Namun untuk seusianya, satu tahun adalah masa yang panjang. Masa tumbuh amat pesat. Dari yang hanya bisa berbaring, naik level jadi tengkurep, duduk, merangkang, berdiri. Bahkan, dia mulai bisa berjalan sedikit-sedikit. Giginya pun bertambah. Dari nol menjadi sepuluh. Sekarang, dia sudah makan makanan yang sama...

Gara-gara Corona, Saya Berkenalan Dengan Saham

Tiga pekan terakhir, saya tengah asik menggeluti dunia baru. Sebuah aktivitas yang justru ditemukan di sela-sela 'kebingungan' mengisi waktu di tengah pandemi. Maklum, banyak waktu di kasur. Lalu dunia barunya apa? Dunia investasi!  Sebetulnya, saya sudah mengenal kata "investasi" sejak lama. Namun selama ini terbatas pada investasi-investasi konvensional saja. Misalnya emas, properti atau mentok-mentok deposito. Sementara dunia baru yang saya maksud di sini adalah investasi saham. Sesuatu yang sebetulnya sering juga didengar. Sangat akrab di lingkungan saya kerja, -lingkungan wartawan. Namun tidak pernah mencobanya. Tapi belakangan, berawal dari iseng otak-atik fasilitas Buka Reksa, - platform reksadana milik Bukalapak, saya malah keasikan. Melihat grafik uang naik, atau kesal saat harga saham turun memberi sensasi sendiri.  Rasa penasaran makin naik. Perlahan, keasikan itu juga sudah membawa saya berselancar ke berbagai platform investasi lainnya. Mulai dari Bib...

Pengalaman Pribadi ; Cara Ganti Kurir Mendadak pada Shopee

Belanja online kini sudah menjadi gaya hidup baru. S elain menawarkan produk yang sangat banyak dan bervariasi, ada banyak keuntungan yang bisa didapat. G ratis ongkir, diskon hingga cashback. Namun bukan tanpa kendala. S esekali, ada saja masalahnya. M isal, kurir yang dipilih ternyata tidak sesuai dan perlu pindah. D an kali ini saya mau berbagi tips atau cara mengubah kurir di aplikasi Shopee bagi seller atau penjual. Tips ini saya dapatkan langsung dari pengalaman saya melakukan hal tersebut pada 8 Mei 2020 lalu. Uniknya, peristiwa cukup merepotkan itu justru terjadi di momen pertama saya menangani pembeli. Bingungnya jadi double . Sebelumnya, saya mau cerita kronologisnya. Ini penting untuk memahami kenapa kita diperkenankan mengubah kurir. Sebab, pindah kurir ga bisa sembarangan. Harus ada sebab yang bisa dimaklumi. Jadi gini. Pada tanggal 7 Mei 2020 orderan masuk ke toko Shopee saya. Kebetulan saya menjual kamera pocket second milik saya. Merk Nikon s2800 coolpix. Pembeli datang...

Pengalaman Mengikuti Rapid Test Massal COVID-19; Lima Detik Deg-degan

Hari ini, saya mengikuti Rapid Test COVID-19 di Klinik KMF. Sebuah klinik dadakan yang dibangun Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk menggelar Rapid Test massal. Sebelum saya ceritakan bagaimana prosesnya, saya mau jelaskan apa itu Rapid Test biar tidak salah memahami. Rapid test ini salah satu metode untuk ‘mendeteksi dini’ keberadaan virus COVID di tubuh manusia. Kenapa saya sebut deteksi dini? Sebab, cara ini tidak menghasilkan vonis final apakah kita positif COVID atau tidak. Rapid test ini hanya mengecek keberadaan imunoglobulin. Ibaratnya, alat ini akan melihat apakah ada imun yang sedang ‘bertarung’ melawan virus di tubuh kita. Jika hasilnya ada, maka harus dilanjutkan dengan tes PCR. Tes PCR ini untuk memastikan apakah virus tersebut COVID. Sebab bisa saja, virus yang sedang dihadapi imun berasal dari virus lain. Itulah sebabnya, akurasi dari alat ini sebagai deteksi COVID tidak 100 persen benar. Oke, lalu bagaimana prosesnya? Jadi saya m...

Mengunjungi Lorong Buangkok, Kampung Terakhir di Singapura

Kontras dengan Singapura yang gemerlap, di Lorong Buangkok, jalanan masih berupa tanah, ayam berkeliaran, dan pepohonan khas kampung di pekarangan. Seorang warga keturunan Bawean jadi sosok yang dituakan. FOLLY AKBAR, Singapura --- MAK Cik Ayu, demikian dia dipanggil, tengah mengaduk-aduk bubur lambuk saat Jawa Pos singgah di kediamannya pada Selasa siang lalu itu. Membuat bubur yang memiliki warna kekuningan dan bercampur potongan sayuran kecil-kecil Itulah tradisi warga muslim Melayu di Lorong Buangkok, Singapura, setiap Ramadan. ”Bubur ini hanya dibuat di bulan puasa. Saya buat banyak untuk bagi-bagi ke warga,” ujarnya. Di Lorong Buangkok, lanjut dia, berbagi masakan atau apa pun yang dimiliki kepada tetangga merupakan hal biasa. Layaknya tradisi yang banyak ditemui di daerah bangsa Melayu seperti Indonesia. Sebuah tradisi, yang kata dia, hampir tidak ada lagi di Singapura. Kampung Lorong Buangkok memang satu-satunya kampung atau desa dengan aka...

Tiga Tahun Menjalani Profesi yang Fantastis ; Jurnalis

Awal bulan April lalu menandai tiga tahun saya menjalani profesi ini. Profesi sebagai seorang Jurnalis. Tiga tahun menjalani pekerjaan yang fantastis. Namun, sebelum menceritakan pengalaman tiga tahun di lapangan, saya mau memberi sedikit latar belakang, kenapa saya bisa terjun di dunia ini. Karena semua ada alasannya. Jadi gini. Dunia media, sebetulnya bukan dunia yang baru bagi saya. Sebab, dunia itu sangat melekat bagi anak seorang loper koran seperti saya. Sejak saya lahir, sekeliling saya memang sudah penuh akan berita. Semuanya berserakan. Dari banyak koran, majalah, tabloid sisa jualan bapak. Tiap hari, sejak lancar membaca, saya hampir selalu baca dari sisa koran yang tidak terjual. Biasanya sore hari, sambil menemani bapak istirahat. Karena saking biasanya, pernah suatu sore, sekitar kelas empat SD, saya nangis saat bapak pulang tidak membawa sisa koran. Sebetulnya aneh, mestinya saya senang jika dagangan bapak habis. Namun saya punya alasan tersen...

Ada Garis Tuhan yang Terus Mempertemukan Kita

Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta... Demikian potongan puisi karya Soe Hak Gie. Namanya puisi, tentu ini imajinasi. Namun jika kita cari dalam dunia nyata, aku, dan pasangan ku Devi Rahmawati tampaknya cukup layak merepresentasikan potongan puisi tersebut. Setidaknya, menurut ku pribadi. Hampir empat tahun bersamanya, meski sempat putus, aku merasa kami ini lebih banyak perbedaan, di banding persamaan. Tapi justru, persamaan yang kita miliki, adalah kunci kami berdua bisa terus sama-sama. Yakni, kami sama-sama saling menyayangi. Oh ya, meski kami bersama kurang lebih empat tahun terakhir, namun Devi bukanlah sosok baru. Kalau boleh cerita, aku mengenalnya sejak belasan tahun silam. Beberapa waktu setelah dia hadir di kehidupan ku dan teman-teman ku di SDN 3 Sumber. Saat kelas tiga tepatnya. Kala itu, seorang perempuan mungil tiba-tiba masuk ke kelas ku. Di hadapan aku dan kawan-kawan ku, dia memperkenalkan diri. Ntah dari mana. Tapi mungkin tuhan...

Sop Ayam Pak Min Klaten Cabang Rawa Belong dan Hari Sakral

Sop Pak Min Klaten Setelah meninggalkan Yogyakarta pada Maret 2015 lalu, Sop Ayam Pak Min Klaten tak pernah lagi menggoyang lidah saya. Maklum, sebagai pendatang di Ibu Kota, tak mudah menemukan lokasinya di Jakarta. Atau lebih tepatnya, belum sempat memburunya. Siang tadi (20/1), tanpa sengaja, di tengah pencarian menu makan siang di daerah Rawa Belong Jakarta Barat, tempat makan dengan spanduk khas berwarna hijau, yang sudah tiga tahun tak ditemui itu terlihat. Agak terkejut memang. Pasalnya, hampir tiap hari lewat, baru kali ini melihatnya. Lokasinya tak jauh dari Kampus Binus Rawa Belong. Usut punya usut, warung Sop Pak Min di Rawa Belong itu rupanya masih baru. Tanpa ragu, motor pun saya belokkan. Parkir, dan memesan dua porsi, es jeruk, teh  hangat, dan beberapa lauk penunjang seperti sate usus dan perkedel. Rasanya seperti menunaikan kerinduan yang lama terpendam. Oh ya, bicara soal Sop Ayam Pak Min Klaten, dia punya sejarah sendiri buat hidup saya. L...

Sengketa Hidup di dalam Gerbong

Salah satu kesibukan di Stasiun Klaten, Jawa Tengah. Pasca dilarangnya aktivitas pedagang asongan, Stasiun tersebut tampak sepi. Upaya PT KAI menertibkan Kereta Api (KA) dari asongan tanpa memberi solusi mendapatkan perlawanan keras. Bagi asongan, ancaman perut jauh lebih menakutkan ketimbang aparat. Oleh : Folly Akbar**) SESAAT setelah matahari menampakkan sinarnya. Tepat pukul 08.15 WIB, suasana Stasiun Klaten, Kabupaten Klaten Jawa Tengah, pada Rabu 2 Oktober 2013 terlihat berbeda. Di hari biasa, bagian dalam stasiun hanya dipadati calon penumpang dan beberapa karyawan PT KAI(Kereta Api Indonesia) yang tengah bertugas. Sedangkan di luar, hanya ada puluhan tukang ojek dan becak yang berlalu lalang merayu setiap pengunjung untuk menggunakan jasanya. Tak lupa, beberapa tukang parkir yang secara konsisten mengarahkan pengendara untuk meletakan kendaraanya dengan rapih juga turut melangkapi rutinitas di stasiun. Tapi hari itu, ada puluhan anggota kepolisian berse...