Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label olahraga

Timnas dan Integrasi Liga-Liga ASEAN

Pagelaran Piala AFF 2014 tinggal menghitung hari. Indonesia, seperti biasanya memasang target juara pada pesta sepak bola se-Asia Tenggara tersebut. Maklum, dari sembilan kali kesempatan, tim garuda belum sekalipun merasakan manisnya juara. Sayangnya, tingginya target tersebut tidak berbanding lurus dengan persiapan yang dilakukan. Hingga detik ini, atau bahkan hingga seminggu ke depan, skuad timnas senior yang tengah melakukan pelatnas belum juga utuh. Dari 35 nama yang dipanggil, hanya 11 nama yang sudah berlatih bersama dalam tiga minggu terakhir. Alhasil, beberapa pemain jebolan Timnas U-19 yang baru saja tiba di tanah air pun dipaksa ikut “menemani” senior-seniornya berlatih. Molornya jadwal ISL –yang merupakan buntut penyelenggaraan Pemilu dan Piala Dunia di pertengahan tahun lalu adalah penyebabnya. Sebagian besar pemain timnas pun masih berjibaku membela klubnya merengkuh title ISL 2014 hingga 8 November mendatang. Sisa-sisa tenaga pasca “pertempuran” inilah, yang nanti a...

Jangan Asal Piala Dunia

Indonesia mencoba mengambil celah di tengah isu pencopotan Qatar sebagai tuan tumah Piala Dunia 2022, pasca mencuatnya aroma suap dibalik penetapan tersebut. Hal ini diungkapkan Menpora, Roy Suryo yang mendeklarasika diri –jika Indonesia siap menggantikan Qatar untuk menggelar Piala Dunia 2022. Bagi kita pecinta sepak bola, sepintas ini terdengar menggembirakan. Tapi melihat apa yang terjadi di Brazil, sudah semestinya kita berfikir ulang dengan rencana tersebut. Sebagaimana kita ketahui bersama, peristiwa demonstrasi dan pemogokan masal yang dilakukan kelas pekerja menjadi fenomena tersendiri, di tengah hingar-bingar hajat lima tahunan FIFA di Brazil. Naiknya harga kebutuhan pokok –baik logistik maupun jasa– akibat pengalihan dana subsidi untuk pembangunan infrastruktur Piala Dunia adalah alasan kemarahan masyarakat Brazil. Adalah benar jika sepak bola begitu dicintai warga Brazil, tapi kebutuhan perut akan makan, dan kebutuhan tubuh akan kesehatan tak bisa lagi mereka (manusi...

Menanti Kejutan Los Cafeteros

Kolombia. Inilah negara yang tidak bisa dipandang remeh pada pagelaran Piala Dunia 2014 di Brazil mendatang. Dengan pencapaian yang mereka perlihatkan dua tahun belakangan, bukan tidak mungkin, tim berjuluk Los Cafeteros tersebut mampu menjungkalkan negara pemegang tradisi Piala Dunia seperti Italy, Jerman, Argentina, juara bertahan Spanyol, bahkan tuan rumah Brazil. Bukan hanya menyandang peringkat dua kualifikasi zona CONMEBOL, Kolombia datang ke Brazil dengan sederet pemain bintang yang malang-melintang di Eropa. Di belakang ada palang pintu andalan AC Milan, Cristian Zapata, di tengah ada pemain kaliber Fredy Guarin (Internazionale Milan) dan Juan Cuadrado (Fiorentina), dan jangan lupa, di depan ada penyerang haus gol ,Radamel Falcao (AS Monaco).

Sea Games 2013 Jeblok, Menuntut Keseriusan Pemerintah

Pencapaian kontingen Indonesia dalam Sea Games 2013 di Myanmar tidaklah menggembirakan. Datang dengan status juara bertahan, Indonesia hanya berada di peringkat empat dibawah Thailand, tuan rumah Myanmar dan Vietnam. Dari 36 cabang, hanya 5 cabang yang memenuhi target yang dipatok. Dengan jumlah sumber daya manusia terbesar di ASEAN, pencapaian tersebut sangatlah ironis. Jika melihat sejarah keikutsertaan Indonesia dalam Sea Games yang dimulai pada 1977, Indonesia memiliki dominasi mutlak. Bahkan dalam kurun waktu 1977-1997, Indonesia sanggup menyabet 9 kali juara umum dari 11 kali penyelenggaraan. Tapi angka tersebut hanya menjadi masa lalu yang indah, selanjutnya prestasi atlet Indonesia terus menurun. Bahkan pada kurun waktu 1999-2009, prestasi terbaik Indonesia hanyalah peringkat ketiga. Barulah pada Sea Games 2011 di Palembang, Indonesia sanggup menjadi juara umum dengan status tuan rumah. Dan kini Indonesia kembali terlempar di peringkat empat.

Untuk Juara, Indonesia Butuh Gol

Timnas (Tim Nasional) U-23 yang dipersiapkan guna Sea Games Myanmar desember mendatang tengah dilada persoalan serius. Merujuk pada tiga uji coba terakhir, skuad asuhan Rahmad Darmawan terlihat kesulitan dalam mencetak gol. Dimana Andik cs hanya mampu mencetak 2 gol, meski lawan yang dihadapi memiliki level dibawah mereka, yakni PSS, Persibat dan Timor Leste. Kesimpulan awal, timnas U-23 tidak memiliki target man yang ideal! Kecepatan yang dimiliki Andik Virmansyah, Bayu Gatra, Oktovianus Maniani dan Ferinando Pahabol di sisi lapangan menjadi tidak sempurna tanpa adanya target man yang pandai mengkonversi umpan mereka menjadi gol.

Timnas Instan? No way

Mie instan sekalipun, tetap membutuhkan proses untuk bisa disantap… Ungkap salah seorang kawan dalam sebuah status facebook miliknya. Sebuah analogi yang tampaknya perlu kita jadikan pijakan, terlebih di era modern yang selalu menawarkan sesuatu yang serba instan. Pola pikir instan mencirikan pribadi yang malas. Orang pun hanya akan bermimpi untuk meraih hal, tanpa mau melalui rentetan proses -yang notabene rukun yang mustahil untuk ditanggalkan.

Menaklukan Logika Pengusaha Gila Bola

Erick Thohir adalah salah satu pengusaha sukses Indonesia yang menjadi perbincangan hangat media-media di Italia beberapa pekan terakhir. Upaya pemilik klub DC United untuk membeli 80 persen saham klub Internazionale Milano jelas bukan berita kecil. Inter merupakan salah satu klub raksasa di Italia. Terlebih, upaya Erick tersebut akan merubah sejarah Inter karena Massimo Moratti dan ayahnya merupakan penguasa klub berjuluk Nerazzurri itu dalam beberapa dasawarsa terakhir. Uang tunai 260 juta euro atau setara 3,1 triliyun rupiah siap digelontorkan pengusaha gila bola itu, demi menguasai mayoritas saham klub yang telah meraih tiga gelar Liga Champion tersebut. Bahkan dalam proposalnya, Erick menawarkan 1,3 triliyun rupiah untuk belanja pemain di awal musim.

PSSI Butuh dikelola dengan Hati

Perseteruan yang terjadi dalam tubuh sepak bola Indonesia dua tahun belakangan, akhirnya menemui titik terang dengan terselenggaranya KLB PSSI pada 17 Maret lalu. Meskipun demikian, sebagian banyak orang berpendapat bahwa itu bukanlah akhir, bahkan itu adalah babak baru konflik PSSI. Hal ini tidak lepas dari munculnya letupan-letupan yang terjadi di tubuh pengelola Timnas, serta aksi Walkout yang dilakukan enam anggota Komite Executive(Komex). Tapi di luar itu semua, setidaknya untuk saat ini Indonesia telah terbebas dari sanksi FIFA yang sempat berada di ujung tanduk. Lolosnya Indonesia dari sanksi FIFA merupakan anugerah yang mesti kita syukuri. Dan bentuk rasa syukur tersebut bisa kita implementasikan dengan memanfaatkan kemurahan hati FIFA, untuk sama-sama berkomitmen memajukan sepak bola Indonesia. Sulit rasanya untuk membayangkan kondisi sepak bola Indonesia yang semakin menunjukan potensi ini, jika harus dibekukan FIFA.

Petinggi PSSI Selalu Beda Tafsir. Kenapa?

Problematika terkait penangaan Tim Nasional(Timnas) Indonesia kini mengalami babak baru. Masalah baru dengan model lama, yakni perpecahan. Parahnya perpecahan kali ini tidak lagi berkutat antara PSSI-KPSI yang selama ini kita ketahui. Tapi telah menukik ke genre yang lebih spesifik, yakni dalam tubuh PSSI itu sendiri. Hal ini mengindikasikan nasib Timnas ke depan akan semakin amburadul. Hal tesebut terbukti dengan adanya dua surat pemanggilan Timnas yang membingungkan para pemain. Masalah ini harus diperparah dengan rangking Indonesia yang turun 7 peringkat dalam rilis terbaru FIFA bulan ini. Penunjukan pelatih baru Timnas dan pembentukan Badan Tim Nasional(BTN) oleh Djohar Arifin menjadi pangkal dari persoalan baru ini. Djohar Arifin melakukan hal tesebut atas dasar hak preogatif dia sebagai Ketua Umum dan berdasarkan Peraturan Organisasi Nomor 7 tahun 2010 tentang BTN. Sementara Bob Hippy selaku Koordinator Timnas yang juga anggota Komite Exco PSSI menganggap apa yang dilakukan...

Klub DIY Perlu Merger

Di era modern, kita harus mengakui jika sepak bola bukanlah rutinitas olahraga ataupun ajang meraih prestasi semata, tapi kini sepak bola telah berevolusi menjadi sebuah industri. Hal ini tidak lepas dari posisi sepak bola sebagai olahraga terpopuler di seluruh dunia. Dan konsekuensi logis dari kondisi ini adalah sepekbola harus dikelola secara professional. Di Indonesia sendiri, upaya menuju industri sepak bola masih jauh dari harapan, khususnya dari segi finansial. Pasca penghentian dana APBD, kendala finansial menjadi problem laten yang menggelayuti hampir semua klub. Tidak hanya ditingkat amatir, bahkan klub sekelas ISL(Indonesian Super League) dan IPL(Indonesian Primier League)   yang notabenya berada di kasta tertinggi sepak bola Indonesia pun tidak luput dari problem tersebut.

AFF, Belajarlah dari Denmark dan Irak

Perhelatan Piala AFF yang akan berlangsung pada 24 November 2012 mendatang tinggal menghitung hari. Mustahil rasanya jika kita berharap Timnas Indonesia bisa menurunkan komposisi pemain terbaiknya melihat perkembangan yang ada hingga kini. Tampaknya sudah tidak ada lagi kalimat yang bisa menggambarkan rasa letih kita melihat panggung perseteruan para pemangku kebijakan persepakbolaan Indonesia. Perlu rasanya kita melupakan sejenak konflik PSSI untuk hal yag lebih penting, yakni mendukung sepenuh hati para pemain Indonesia yang berjuang di hajatan terbesar sepak bola Asia Tenggara tersebut.             Siapapun kita dan dimanapun kita memihak(KPSI atau PSSI), hati kecil kita sebagai rakyat Indonesia tentu berharap keikutsertaan Indonesia kali ini akan berbuah manis. Semoga penantian panjang kita selama belasan tahun akan terwujud pada piala AFF tahun ini. Sehingga bangsa ini bisa mensejajar diri dengan Thailand, Singapura, Vietn...

Mengukur Kelayakan Timnas

Pegelaran pesta sepak bola Se-Asia Tenggara yang di kenal dengan sebutan piala AFF tinggal menghitung minggu. Turnamen yang akan berlangsung di Malaysia-Thailand pada akhir November 2012 tersebut menempatkan 8 timnas terbaik dari berbagai negara di kawasan ASEAN. Disaat negara tetangga terfokuskan untuk mempersiapkan kekuatan terbaik mereka, hal yang berbeda terjadi di tanah air. Konsentrasi pembentukan timnas harus berbagi dengan konsentrasi penyelesaian konflik PSSI. Sebagian kekuatan bangsa habis hanya untuk menyaksikan kisruh dualisme yang belum juga menemukan titik temu. Penandatangan MOU perdamaian yang dilakukan beberapa waktu lalu bagaikan minuman yang melepaskan dahaga sesaat, sebelum kembali meracuni seluruh tubuh kita.

Mengurai Industri Sepak Bola Indonesia

Perjalanan panjang klub-klub Indonesia   mengikuti kompetisi, baik di Liga Super Indonesia(LSI) atau pun Liga Primer Indonesia(LPI) telah sampai pada ujungnya. Hasilnya Sriwijaya merajai di LSI dan Semen Padang menjadi juara di LPI. Tapi berakhirnya liga bukan berarti selesai segalanya, beberapa noda masih menggelayuti beberapa klub yakni permasalahan gaji. Hingga saat ini, beberapa klub masih memiliki tunggakan gaji dengan pemainya, bahkan beberapa pemain mengancam akan mengadu ke FIFA. Disaat beberapa klub Indonesia berada di ujung tanduk, kabar sebaliknya terjadi di Major League Soccer(MLS). Dimana salah satu klub MLS yakni DC United mendapat guyuran dana segar dari pengusaha Indonesia, Erick Thohir yang menanam saham di klub tersebut. Alhasil semakin panjang daftar pengusaha yang menanam saham di klub asing setelah sebelumnya keluarga Bakrie yang memiliki saham di CS Vise klub Belgia dan Brisbane Roar klub Australia. Tentu yang menjadi pertanyaan, mengapa Erick Thohir le...

PSSI dan Filosofi Roda

“Roda pasti berputar, ada kalanya semua harus berputar” Demikian potongan lirik lagu yang dinyanyikan ST 12 yang sempat booming beberapa bulan yang lalu. Sebuah kalimat yang di ambil dari filosofi putaran roda, yang mana dari kalimat tersebut terkandung sebuah makna yang dalam akan salah satu unsur kehidupan. Manusia ada kalanya di atas, dan ada kalanya di bawah. Pemaparan di atas bisa dijadikan gambaran kondisi PSSI saat ini. Tentu kita masih ingat ketika Nurdin Halid, Nirwan Bakrie dan kelompoknya duduk di jajaran atas PSSI selama 2003-2011, kekuasaan mereka terus di goyang oleh Arifin Panigoro dan kelompoknya. Mulai dari membuat liga tandingan LPI hingga mencapai puncaknya ketika mereka sukses mendongkel Nurdin Halid dalam kongres Solo. Dan kini kondisi tersebut telah berbalik 180 derajat, ketua PSSI Djohar Arifin yang masih bagian dari kelompok Arifin Panigoro terus digoyang anggota KPSI yang mayoritas terdiri dari orang-orang era Nurdin Halid. Tekanan itu mengalami punca...

Memalukan Republik Indonesia

Indonesia mengawali tahun 2012 dengan catatan-catatan negatif. Sehari pasca kekalahan timnas U-21 di tangan tim gurem Myanmar, sempurna sudah kegagalan Timnas Indonesia dalam ajang Pra-Piala Dunia(PPD) 2014. Setelah lima kekalahan secara berturut-turut, pertandingan terakhir ditutupnya dengan kebobolan 10 gol tanpa balas. Sehingga lapor timnas PPD adalah 6 kali kalah dengan total kemasukan 26 kali dan hanya mencetak 3 gol. Sebagai pecinta sepak bola tanah air, melihat fakta ini membuat perasaan kita bermacam-macam rasa, ada sedih, malu dan kesal. Sedih karena impian kita melihat Timnas Indonesia tampil di piala dunia harus kembali tertunda hingga “entah kapan”. Rasa malu sendiri menjadi hal lumrah yang dirasakan anak bangsa ketika negaranya dikalahkan negara lain dengan mengenaskan. Dan rasa kesal timbul akibat ulah PSSI yang ceroboh dengan mengirim tim amatir tanpa memperhatikan harga diri 250 juta masyarakat Indonesia yang mereka pertaruhkan.

KLB Harga Mati

Dengan lengsernya rezim Nurdin Halid ternyata tidak menyelesaikan masalah yang ada di Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia(PSSI). Rezim Djohar Arifin dan Farid Rahman yang diharapkan mampu memajukan PSSI nyatanya semakin memperkeruh situasi. Adanya dualisme liga serta mundurnya Rahmad Darmawan dari kursi pelatih timnas menjadi puncak gunung es dari kebobrokan kinerja PSSI saat ini. Keadaan demikian hakikatnya tidak akan terjadi jika PSSI benar-benar bersih dari unsur politik. Sangatlah disayangkan, ketika masyarakat kembali melirik sepak terjang timnas Indonesia, ketika masyarakat mulai menaruh harapan kepada sepak bola Indonesia yang menunjukan talenta dan potensi yang besar, kotornya politik justru merusaknya. Apakah pantas pengurus yang sarat akan kepentingan politik dipertahankan dan dipercaya mampu menunjukan prestasi?  

Menyikapi Pemberhentian Dana APBD Bagi Klub

Ditengah pincangnya induk persepakbolaan Indonesia yang terintervensi kepentingan politik dan dalam bayang-bayang sanksi FIFA, masalah lain telah menghadang PSSI yang mudah-mudahan segera terbentuk itu. Keputusan mengenai pemberhentiaan kucuran dana APBD terhadap klub-klub di Indonesia jelas akan memberikan dampak yang tidak kecil. Karena  kita tahu, lebih dari  90%  klub di Indonesia dihidupi kucuran dana APBD. Dalam sepak bola modern memang tidak diperbolehkan menggunakan uang rakyat, akan tetapi kondisi sekarang tampaknya masih kurang bersahabat dengan kebijakan ini. Rata-rata klub ISL saja membutuhkan biaya diatas 10 miliyar dalam semusim, bahkan tidak sedikit yang menyentuh angka berkisar 20 miliyar. Dana sebesar itu sulit di dapat jika hanya mengandalkan sponsor, apalagi tidak banyak perusahaan yang siap memberikan sponsor ditengah perekonomian yang serba sulit. Pendapatan lewat karcis pun hanya bisa di nikmati oleh klub yang memiliki supporter besar seperti Are...