Langsung ke konten utama

Kiprah Bandung Cancer Society (BCS): Berbagi Kekuatan dan Harapan Hidup


Foto Organisasi


BCS menjadi salah satu tumpuan para penderita kanker untuk mendapat edukasi dan kekuatan hidup. Mereka juga memiliki rumah singgah yang dapat diakses dengan harga terjangkau.

FOLLY AKBAR, Bandung

---

KOMUNITAS ini lahir di sebuah sudut Kota Bandung, di Aula Gereja Pandu, belasan tahun lalu. Pendirinya adalah tiga perempuan penyintas kanker. Salah satu di antaranya, Yanti Setiawadi. Dia menjadi motor penggerak dan sosok yang hingga kini terus memberikan semangat dan harapan bagi banyak orang yang bergelut dengan penyakit ganas tersebut.

Kepada Jawa Pos, Yanti yang kini menjabat ketua mengenang kembali awal terbentuknya Bandung Cancer Society. ”Sebenarnya grup ini didirikan para penyintas kanker, termasuk saya sendiri,” ujarnya pekan lalu.

Saat itu, 17 tahun lalu, dia kesulitan untuk menemukan teman yang bisa diajak berbagi pengalaman tentang kemoterapi. Padahal, terapi itu dibutuhkannya. Juga orang-orang yang bernasib sama sepertinya. ”Akhirnya saya berpikir, kalau ada komunitas, kita bisa lebih mudah untuk berbagi,” kenangnya.

Maka, pada 2 Desember 2007, BCS resmi berdiri, berawal dari kumpulan tiga penyintas kanker payudara. Selain Yanti, dua sahabatnya, Yuni dan Hani, juga berperan dalam mendirikan komunitas tersebut. Namun, dua sahabatnya itu sudah berpulang pada 2012. Meski demikian, semangat mereka terus hidup dalam setiap langkah BCS. Komunitas itu dibuka untuk semua jenis kanker, bukan hanya kanker payudara. Komitmen untuk saling mendukung pun semakin menguat, seiring bertambahnya anggota yang merasakan manfaat dan kebersamaan di dalamnya.

Awal mula kegiatan komunitas tersebut sederhana: kumpul-kumpul dan berbagi pengalaman. ”Waktu itu kita belum punya tempat, jadi sering pinjam aula gereja. Awalnya cuma tiga atau empat orang yang datang, tapi lama-lama makin banyak,” ujar Yanti.

Kemudian, seorang dokter bedah onkologi bernama Dradjat Suardi, yang juga merawat Yanti, memberikan nama ”Bandung Cancer Society” sebagai identitas resmi komunitas tersebut. Sejak saat itu, BCS mulai diorganisasi dengan lebih terstruktur.

Seiring waktu, kegiatan komunitas itu semakin berkembang. Setiap bulan BCS mengadakan seminar yang menghadirkan dokter spesialis untuk memberikan pengetahuan seputar kanker. Ada juga kegiatan olahraga dan meditasi, terutama saat perayaan World Cancer Day pada Februari atau Breast Cancer Awareness Month pada Oktober. ”Setiap bulan pasti ada kegiatan untuk menambah pengetahuan,” tuturnya. Sesekali juga mereka mengunjungi pasien kemoterapi. Antara lain, di Rumah Sakit Borromeus, Bandung.

Tidak hanya berbagi ilmu dan tenggang rasa, BCS juga mendirikan Rumah Singgah Kasih. Lokasinya tidak jauh dari Rumah Sakit Hasan Sadikin. RS terbesar di Jawa Barat. Rumah singgah itu diperuntukkan pasien kanker dari luar kota yang menjalani pengobatan di Bandung. Khususnya mereka dengan kepesertaan BPJS kelas III. Dengan hanya membayar Rp 10.000 sebagai uang pendaftaran, pasien bersama pendampingnya bisa tinggal di sana tanpa biaya tambahan. ”Di rumah singgah, kami sediakan beras, dapur, dan air minum. Kami juga ajarkan cara merawat luka dan edukasi kesehatan,” kata Yanti.

Edukasi memang merupakan salah satu fokus utama BCS. Menurut Yanti, pasien kanker dari daerah sering memiliki pemahaman yang kurang mengenai penyakit tersebut. ”Banyak yang masih berpikir bahwa kanker itu menular atau merupakan kutukan. Ini adalah hal-hal yang perlu kita luruskan, terutama tentang makanan, kebersihan, dan bahaya pengobatan alternatif yang kurang efektif,” paparnya.

Untuk menghadapi ketakutan pada efek samping kemoterapi, Yanti dan komunitasnya menjadi saksi hidup yang memberikan kekuatan kepada sesama pasien kanker. Cerita dari para penyintas diyakini lebih bisa diterima daripada orang lain. Sebab, penyintas mengalami dan merasakan langsung. ”Mereka bisa melihat kami, orang yang pernah menjalani kemoterapi dan masih bisa aktif kembali. Itu membuat mereka lebih berani,” ujarnya.

Menjalankan komunitas tersebut tentu membutuhkan biaya. Namun, Yanti percaya bahwa berkat Tuhan selalu ada. ”Kalau butuh, ada saja yang membantu,” ungkapnya. Beberapa donatur menyediakan air minum, beras, bahkan bantuan untuk biaya seminar di hotel. Dokter-dokter dari Bandung juga sering memberikan jasa mereka tanpa biaya.

Selain menyediakan tempat tinggal, Rumah Singgah Kasih berfungsi sebagai tempat pasien bisa merasa diterima dan punya keluarga. ”Di sini mereka merasa punya teman untuk berbagi,” kata Yanti.

Anggota BCS umumnya berasal dari Jawa Barat. Namun, rumah singgah itu sudah menerima pasien dari berbagai daerah seperti Bali, Sulawesi, Kalimantan, bahkan Aceh. Sebab, sering kali para penderita dari daerah mendapat rujukan untuk berobat ke Bandung.

Untuk mempermudah komunikasi antaranggota, komunitas tersebut memiliki grup WhatsApp yang berfungsi sebagai media informasi dan dukungan moral. Di sana, mereka saling menguatkan, berbagi informasi, dan mendoakan satu sama lain. Hingga saat ini, BCS memiliki sekitar 600 anggota. Meskipun, ada sebagian yang telah meninggal dunia. ”Untuk rumah singgah sendiri, sudah ada 616 pasien yang tinggal di sana selama dua setengah tahun terakhir,” tambah Yanti. (*/oni)


Jawa Pos 2 Desember 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ayat dan Hadits Tentang Komunikasi Efektif

Bab I Pendahuluan Dalam perspektif Islam, komunikasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia karena segala gerak langkah kita selalu disertai dengan komunikasi. Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi yang islami, yaitu komunikasi berakhlak al-karimah atau beretika. Komunikasi yang berakhlak al-karimah berarti komunikasi yang bersumber kepada Al-Quran dan hadis (sunah Nabi).  Dalam Al Qur’an dengan sangat mudah kita menemukan contoh kongkrit bagaimana Allah selalu berkomunikasi dengan hambaNya melalui wahyu. Untuk menghindari kesalahan dalam menerima pesan melalui ayat-ayat tersebut, Allah juga memberikan kebebasan kepada Rasulullah untuk meredaksi wahyu-Nya melalui matan hadits. Baik hadits itu bersifat Qouliyah (perkataan), Fi’iliyah (perbuatan), Taqrir (persetujuan) Rasul, kemudian ditambah lagi dengan lahirnya para ahli tafsir sehingga melalui tangan mereka terkumpul sekian banyak buku-buku tafsir.

Musikalisasi Lutung kasarung :Dikemas Modern, Relevan dengan Generasi Kekinian

  Musikalisasi Lutung Kasarung membuktikan bahwa sentuhan modernisasi dapat membuat cerita rakyat tetap relevan dan dinikmati lintas generasi. LUTUNG Kasarung adalah satu dari sekian kisah klasik yang kerap ditampilkan dalam pentas musikal. Namun, kolaborasi Indonesia Kaya-EKI Dance Company memiliki perspektif yang lebih modern. Musikalisasi Lutung Kasarung yang dipentaskan di Galeri Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta itu menyuguhkan kisah legendaris dengan sentuhan lebih segar. Konsepnya dapat memikat generasi muda tanpa meninggalkan akar budaya dan pesan moral. Mengambil latar Kerajaan Pasir Batang, pertunjukan itu mengisahkan seekor monyet ajaib yang menolong Putri Purbasari. Alur klasik itu berkelindan dengan properti canggih di panggung. Salah satunya kehadiran layar LED yang membangun nuansa hutan rimbun, istana, dan dinamika suasana lewat teknologi proyeksi visual. Musik pun begitu. Bebunyian khas Sunda dan musik lain berpadu harmonis dengan irama elektronik serta o...

Pelaku Vandalisme, Masih Misterius

Hingga kini, pihak kampus belum mengetahui pelaku aksi tersebut. lpmarena.com,   Pelaksanaan pemilwa benar-benar membuat perwajahan kampus UIN berbeda. Bukan hanya poster dan baliho yang membuat kampus ini terlihat ramai, beberapa aksi vandalisme pun ikut mewarnai wajah kampus. Kamis(30/05), masyarakat UIN Suka dikejutkan dengan coretan-coretan yang memenuhi tembok-tembok disegala penjuru kampus. Bahkan gedung rektorat pun tidak luput dari aksi vandalisme tersebut. Dalam vandalisme tersebut tertulis beberapa tuntutan, seperti LPJ DEMA, pembubaran KPUM hingga penurunan rektor. Juweni, salah seorang petugas satpam yang bertugas piket tadi malam mengaku tidak mengetahui siapa pelaku aksi tersebut. “saya gak menemui siapa pelakunya”, ujarnya. Juweni menjelaskan bahwa aksi tersebut dilakukan di berbagai waktu yang berbeda. “Kalau yang di rektorat itu dari kemarin siang sudah ada, kalau yang di MP itu masih sore, belum terlalu malam. Nah kalau yang di fakultas-fakultas itu se...