Langsung ke konten utama

Postingan

Kisah Tumiso, eks Tahanan Politik Pulau Buru yang menyelamatkan Karya-Karya Pramoedya.

Tumiso (paling kiri) saat masih di Pulau Buru Sengaja Pingsan agar Tidak dirazia Tentara           Anda suka, atau bahkan kagum dengan karya-karya Pramoedya Ananta Toer? Maka sudah selayaknya anda berterima kasih pada Tumiso. Tanpanya, anda dan dunia tak mungkin bisa menikmati karya-karya Pram di Pulau Buru yang amat luar biasa. Berikut kisahnya.             Oleh Folly Akbar, Jakarta             Dua Oktober 1979, adalah hari yang membahagiakan bagi Tumiso. Bersama para tahanan politik lainnya di Pulau Buru, dia dibebaskan. Kapal Gunung Jati yang biasa mengangkut jamaah haji, menjadi angkutan yang mengantarkannya kembali ke tanah Jawa. Setelah 10 tahun diasingkan. Jika teman-temannya membawa berbagai macam barang pribadinya, hal berbeda justru dilakukan Tumiso. Dia hanya membawa dua stel pakaian, dan satu botol ...

Kebersahajaan Tirta Mandira Hudhi, Dokter Sekaligus Pebisnis Laundry Sepatu

Fokus Bisnis agar Jadi Dokter yang Nggak Mikir Uang Kebutuhan kuliah di kedokteran mendorong Tirta Mandira Hudhi berbisnis dan bisnis itu pula yang akhirnya membantunya bisa menjadi dokter. Berdayakan anak-anak lulusan SD dan SMP sebagai pekerja. FOLLY AKBAR, Jogjakarta --- YANG dicita-citakan Tirta Mandira Hudhi sejak kecil itu akhirnya tercapai pada hari pertama bulan ini. Dia resmi bertugas sebagai dokter di Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada (UGM). Tapi, terkabulnya cita-cita menjadi dokter itu tak lantas membuatnya pensiun dari dunia yang memungkinkannya menjadi dokter: bisnis laundry sepatu. "Saya tetap fokus di laundry sepatu supaya saat jadi dokter nggak mikir uang. Dokter kan kerjaan humanis," terang pria 25 tahun itu. Dua dunia tersebut memang berkelindan dalam diri Tirta. Barangkali anak muda kelahiran Solo itu satu-satunya dokter di Indonesia yang juga "tukang cuci sepatu" dan sebaliknya. Keduanya ...

Konsistensi Yayasan Kampung Halaman "Memberikan Suara" kepada Remaja

Agar Tidak Cuma Pasang Bohlam saat 17 Agustusan Di bawah bimbingan Yayasan Kampung Halaman, remaja di berbagai pelosok Nusantara turut berkontribusi memberdayakan lingkungan dalam beragam bentuk. Ada yang mengajak warga memanfaatkan BPJS Kesehatan lewat pentas drama. FOLLY AKBAR, Jogjakarta --- HARI Minggu terakhir di tiap bulan selalu menjadi Ahad yang sibuk bagi Dewi Wahyuni Sebab, begitu banyak yang harus dia siapkan untuk gelaran seni rutin bulanan pada Minggu pagi pekan lalu itu (29/5). Untung, dia tak sendirian. Rekan-rekan remaja sebayanya yang tergabung dalam kelompok Gama 55 juga turun tangan. Dengan bergotong royong, anak-anak muda di Dusun Krapyak, Sleman, Jogjakarta, itu menyiapkan pentas yang antara lain diisi tari dan musik tersebut. Panggung acara bertajuk Selamat Pagi itu sederhana, bahkan sangat alami. Berada di bawah rerimbunan bambu di tepi Sungai Kelanduan. "Pentas ini memang bagian dari sisi lain pemanfaatan Sungai Kelanduan,...

Mengungkap Kisah di Balik Sejarah: Jelang Peringatan 120 Tahun TanMalaka (edisi kedua)

Diskusi Tan Malaka. Giat Mendirikan Sekolah Rakyat  Para sejarawan mencatat Tan Malaka juga seorang aktivis pendidikan. Bagi dia, jalan menuju kemerdekaan Indonesia harus dibuka dengan mencerdaskan rakyat.  FOLLY AKBAR , Depok --- MESKIPUN  menggunakan bahasa Indonesia yang terbata-bata, paparan Harry A. Poeze tentang sosok Tan Malaka tetap menarik disimak. Harry adalah doktor dari Universitas Amsterdam yang ''bersentuhan'' dengan Tan Malaka sejak 1972. Saat itu dia menulis skripsi tentang Tan Malaka di kampus yang sama.  Baca edisi pertama : Bisa Bersekolah di Belanda berkat Iuran Warga Sekampung Dari penelitian panjang dan ketertarikannya terhadap sosok Tan Malaka yang terus berlanjut sampai sekarang, Harry sampai pada satu kesimpulan. ''Dia sudah berpikir maju di zaman itu (era penjajahan, Red),'' ujar Harry saat diskusi Merajut Kenangan, Jalan Sunyi sang Pejuang Republik  di auditorium Gedung IX Fakultas Ilmu Budaya, Universitas In...

Mengungkap Kisah di Balik Sejarah: Jelang Peringatan 120 Tahun Tan Malaka (edisi pertama)

Diskusi Tan Malaka di Universitas Indonesia, Senin (16/5) Bisa Bersekolah di Belanda berkat Iuran Warga Sekampung  Jauh dari asumsi publik selama ini, Tan Malaka yang lahir di lingkungan agamis justru sangat dekat dengan ajaran agama. Bahkan, dia hafal Alquran. Keluarga hanya berharap perjuangannya untuk Indonesia yang merdeka diakui.   FOLLY AKBAR , Depok --- EMOSI  Zulfikar Kamarudin, keponakan Tan Malaka, mendadak tinggi. Matanya berkaca-kaca. Suaranya berat. Seperti menahan kepedihan yang dalam. Di usianya yang sudah menapak 60 tahun itu, dia tetap lantang menyuarakan keadilan bagi pamannya tersebut. ''Tan orang yang sangat nasionalis, memberikan sumbangsih besar bagi negeri ini. Tapi, seperti tidak dianggap,'' ujar Zulfikar, lantas disambut tepuk tangan peserta diskusi ''Merajut Kenangan, Jalan Sunyi sang Pejuang Republik'' di auditorium Gedung IX Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia (UI), Depok, kemarin (16/5). Menurut di...

Konsistensi Ari - Reda Menekuni Musikalisasi Puisi

Reda Gaudiamo dan Ari Malibu tampil di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (6/5) Remaja di Bentara Membuat Semangat Menyala Tak kurang dari 34 tahun sudah Ari-Reda mengemas bait-bait sajak dengan melodi yang mengalun. Antusiasme generasi baru yang turut menikmati karyanya membuat keduanya tetap bersemangat menekuni musikalisasi puisi.  FOLLY AKBAR, Jakarta --- Kubiarkan cahaya bintang memilikimu//Kubiarkan angin yang pucat dan tak habis-habisnya//Gelisah, tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu//Entah kapan kau bisa kutangkap Bait indah itu mengalun dalam Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat malam (6/5). Sapardi Djoko Damono, sang empu syair berjudul Nokturno itu, terlihat tenang di kursi terdepan. Mendengarkan karyanya dikemas sempurna oleh bekas mahasiswanya: Ari Malibu dan Reda Gaudiamo. Menjadi alunan musik nan syahdu dalam musikalisasi puisi. Di sela-sela percakapan hangat bertajuk A Rare Conversation: Sapardi X Jokpin tersebu...

Kesaksian ABK Brahma 12 Selama 35 Hari Disandera Abu Sayyaf

10 ABK diserahterimakan oleh Menteri Luar Negeri Tak Panik karena Mengira Yang Datang Aparat Filipina  Para sandera dari Indonesia tak pernah mendapat perlakuan kasar. Mereka diberi makan secara teratur dan tidak dikurung. Terus berpindah tempat setiap tentara Filipina mendekat. Oleh FOLLY AKBAR --- SUBUH menjelang ketika sepuluh pria itu mendadak dibangunkan. Orang-orang bersenjata yang menjaga mereka meminta semua segera berjalan menuju dermaga. Sebuah kapal telah menunggu di sana. Sampailah mereka di sebuah pulau. Sepuluh orang yang merupakan kru kapal Brahma 12 asal Indonesia yang disandera kelompok Abu Sayyaf itu lalu diperintahkan untuk pindah ke sebuah truk bak terbuka. Truk berjalan dan tak ada seorang pun di antara sepuluh pria tersebut yang diberi tahu ke mana mereka akan dibawa. Juga akan diapakan.