Langsung ke konten utama

Postingan

Sengketa Hidup di dalam Gerbong

Salah satu kesibukan di Stasiun Klaten, Jawa Tengah. Pasca dilarangnya aktivitas pedagang asongan, Stasiun tersebut tampak sepi. Upaya PT KAI menertibkan Kereta Api (KA) dari asongan tanpa memberi solusi mendapatkan perlawanan keras. Bagi asongan, ancaman perut jauh lebih menakutkan ketimbang aparat. Oleh : Folly Akbar**) SESAAT setelah matahari menampakkan sinarnya. Tepat pukul 08.15 WIB, suasana Stasiun Klaten, Kabupaten Klaten Jawa Tengah, pada Rabu 2 Oktober 2013 terlihat berbeda. Di hari biasa, bagian dalam stasiun hanya dipadati calon penumpang dan beberapa karyawan PT KAI(Kereta Api Indonesia) yang tengah bertugas. Sedangkan di luar, hanya ada puluhan tukang ojek dan becak yang berlalu lalang merayu setiap pengunjung untuk menggunakan jasanya. Tak lupa, beberapa tukang parkir yang secara konsisten mengarahkan pengendara untuk meletakan kendaraanya dengan rapih juga turut melangkapi rutinitas di stasiun. Tapi hari itu, ada puluhan anggota kepolisian berse...

Masykurudin Hafidz, Santri yang "Membelot" Jadi Pegiat Pemilu

Foto Istimewa Ingin Buktikan Islam dan Demokrasi Compatible Tanpa memiliki latar belakang pendidikan kepemiluan, sosok Masykurudin Hafidz justru banyak terlibat dalam perjalanan pesta demokrasi di Indonesia beberapa tahun belakangan. Selain melakukan pemantauan, sumbangsih pemikiran aktivis Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) itu banyak di dengar oleh pemangku kebijakan kepemiluan. Oleh : Folly Akbar, Jakarta*) Ya, pria yang akrab disapa Cak Masykur itu sejatinya adalah seorang santri tulen. Lahir dari keluarga yang taat beragama, membuat darah santri mengalir di sanubarinya sejak dini. Tak ayal, mulai dari pendidikan dasar, hingga perguruan tinggi, lembaga tempatnya menempuh pendidikan selalu saja beririsan dengan pendidikan agama. “Saya di MI, MTS, MA juga khusus keagamaan. Kemudian masuk LIPIA punya Arab Saudi,” ujarnya kepada Jawa Pos. Kiprahnya terjun ke dunia sosial baru dimulai saat dia masuk ke organisasi Perhimpunan Pengembangan Pe...

Pernikahan "gaek" Nani Widjaja dengan Ajip Rosidi

Nani Widjaja dan Ajip Rosidi usai melakukan ijab qabul Tatkala Cinta Merekah di Usia Senja Perkara hati memang tak bisa dikira. Siapa sangka, di usia 72 tahun, benih-benih cinta di hati Nani Widjaja kembali merekah kala disiram hangatnya perhatian Ajip Rosidi, 79. Keduanya pun sepakat menikah. FOLLY AKBAR, Cirebon --- NANI WIDJAJA mendadak panik. Langkahnya tertahan. Dari gelagatnya, dia sepertinya tengah mencari seseorang. Benar saja, di tengah ratusan orang yang memadati Masjid Sang Cipta Rasa di Keraton Kasepuhan Cirebon kemarin (16/4), pemeran Emak dalam serial  Bajaj Bajuri  itu berteriak-teriak. "Mana Ajip, mana Ajip?" ujarnya dengan raut gelisah. Tak lama, sosok yang dicarinya menyeruak dari kerumunan dan tiba di sisinya. Sastrawan gaek yang sudah menelurkan ratusan karya tersebut tampak kalem dan penuh karisma dengan rangkaian kuncup bunga melati yang terkalung. Seketika, raut gelisah Nani langsung sirna. Berganti dengan senyum merona. "...