Langsung ke konten utama

Sedikit Berbagi Tentang Pasar Stan, Maguwo, Sleman


Pasar Stan atau kerap diplesetkan orang menjadi “Pasar Setan” merupakan satu dari puluhan pasar tradisional yang ada di wilayah Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pasar yang terletak di Jalan Sajem Maguwoharjo tersebut memainkan peran besar dalam upaya menghidupkan perekonomian bagi penduduk sekitarnya.
Untuk lebih jelasnya, akan kami paparkan secara lebih terperinci segala sesuatu yang berhubungan dengan Pasar Stan. Segala informasi yang kami sampaikan, sepenuhnya hasil wawancara kami bersama Bapak Iskak Rohmadi, pria yang sejak tahun 1996 dipercaya menjadi Kepala Pengelola Pasar. Berikut laporanya:


A.    Sejarah Pasar Stan
Secara resmi, pasar ini berdiri sejak tahun 1970. Sebelum berdirinya pasar, kawasan tersebut hanyalah hamparan sawah yang cukup rindang, tanpa ada transaksi jual beli di dalamnya. Penjaja es curung, dialah sosok penting dibalik berdirinya Pasar Stan. Berjualan es dibawah pohon beringin yang dulu tumbuh dipinggir sawah, tak ayal menarik hati para petani untuk sekedar beristirahat ditengah aktivitas mereka.
Hari berganti hari, semakin banyak pedagang yang mengikuti jejak penjual es curung tersebut. Kawasan itu pun semakin ramai. Bukan hanya para petani, sebagian warga pun tak luput untuk menyerbu apa yang dijual para pedagang di kawasan tersebut.
Melihat fenomena tersebut, Pemerintah Desa memutuskan untuk mendirikan pasar. Sebagian sawah warga pun terpaksa dibeli Pemerintah Desa guna mendirikan kios-kios secara permanen. Di atas tanah seluas 2000 meter tersebut, kini telah berdiri 109 kios. Nama Stan sendiri diambil dari nama tempat dimana pasar itu berdiri yakni Kampung Stan.

B.     Pada awal pembentukan “rezim” Iskak Rohmadi di tahun 1996, pengelola pasar yang ditunjuk pihak Pemerintah Desa sebanyak 6 orang. Menginjak tahun 2013, hanya menyisakan 4 orang. Adapun sisanya telah berpulang ke rahmatullah, dan hingga kini Pemerintah Desa belum menentukan penggantinya. Berikut susunan pengurus Pasar Stan:
Ketua                         : Iskak Rohmadi
Sekretaris/keuangan   : Margiono
Kebersihan                 : Giran
Keamanan                  : Joko

C.     Kegiatan organisasi pasar.
Kegiatan yang dilakukan pengelola pasar cenderung monoton. Kegiatanya hanya sebatas menarik retribusi pedagang. Adapun besarnya retribusi disesuaikan dengan besar tidaknya usaha yang dilakukan. Angkanya berkisar antara 300-1000 rupiah perhari.



D.    Metode pengaturan kios.
Mayoritas pemilik kios adalah para pedagang lama(Founding Fathers). System penggunaan kios bersifat kontrak. Di awal tahun pedagang diwajibkan untuk membayar kontrak. Tidak berhenti disitu, pedagang masih harus membayar dana bulanan dan harian(retribusi).

E.     Komoditi pasar.
Seperti pasar tradisional pada umumnya, komoditas yang dijajakan di pasar stan tidak jauh dari kebutuhan pokok masyarakat. Mulai dari sembako, lauk-pauk(daging, sayur, rempah) buah-buahan, pakaian dan kebutuhan penunjang lainya.

F.      Penentuan harga.
Untuk masalah harga, pengelola pasar tidak melakukan intervensi. Sepenuhnya ditentukan oleh para penjual sendiri.

G.    Analisis peluang.
Melihat kedudukan pasar yang sebatas pasar desa dan tidak begitu popular, satu-satunya peluang usaha yang cukup besar berada di sektor kebutuhan sembako.

H.    Bagaimana mengembangkan pasar.
Melihat besarnya potensi dan antusias masyarakat, Pemerintah Desa telah merencanakan untuk mengembangkan pasar Stan. Tidak lebih dari 1500 meter tanah disebelah barat pasar telah dipersiapkan untuk memperluas pasar.

 Selama para kapitalis belum menyentuh desa, eksistensi pasar tradisional akan terus ada. Tidak adanya penguasa tunggal, akan membuat perekonomian semakin merata. Dan dari sanalah ketimpangan sosial yang melanda bangsa ini akan hancur. Tentunya ini menjadi tugas dari pemerintah daerah untuk melindungi pasar tradisional. Karena pasar tradisional adalah bagian integral dari perekonomian rakyat, tak terkecuali Pasar Stan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Musikalisasi Lutung kasarung :Dikemas Modern, Relevan dengan Generasi Kekinian

  Musikalisasi Lutung Kasarung membuktikan bahwa sentuhan modernisasi dapat membuat cerita rakyat tetap relevan dan dinikmati lintas generasi. LUTUNG Kasarung adalah satu dari sekian kisah klasik yang kerap ditampilkan dalam pentas musikal. Namun, kolaborasi Indonesia Kaya-EKI Dance Company memiliki perspektif yang lebih modern. Musikalisasi Lutung Kasarung yang dipentaskan di Galeri Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta itu menyuguhkan kisah legendaris dengan sentuhan lebih segar. Konsepnya dapat memikat generasi muda tanpa meninggalkan akar budaya dan pesan moral. Mengambil latar Kerajaan Pasir Batang, pertunjukan itu mengisahkan seekor monyet ajaib yang menolong Putri Purbasari. Alur klasik itu berkelindan dengan properti canggih di panggung. Salah satunya kehadiran layar LED yang membangun nuansa hutan rimbun, istana, dan dinamika suasana lewat teknologi proyeksi visual. Musik pun begitu. Bebunyian khas Sunda dan musik lain berpadu harmonis dengan irama elektronik serta o...

Peran Penting Islam Dalam Hukum Humaniter Internasional

 Judul Buku     : Islam dan Hukum Humaniter Internasional Penulis             : Komite Internasional Palang Merah(ICRC) Penerbit           : Mizan Tahun              : 2012 Tebal halaman : XIV + 468 Halaman ISBN               : 978-979-433-696-0 Di dunia ini, benturan peradaban selalu terjadi. Tidak sedikit yang memilih kontak fisik sebagai bentuk penyelesaian. Berbagai peperangan yang bergejolak dan tercatat dalam sejarah telah mengakibatkan berbagai bencana kemanusiaan yang mengenaskan. Tengok saja konflik yang terjadi di palestina hingga saat ini, mulai dari penyerangan membabibuta -tidak mengindahkan masyarakat sipil, hingga perlakuan terhadap tawanan secara tidak man...

Ida Budhiati, Mantan Anggota KPU-DKPP yang Rajin Memberikan Edukasi Pemilu

Bicara pemilu, sulit untuk melupakan sosok Ida Budhiati. Perempuan asal Semarang ini cukup lama berkecimpung di lembaga penyelenggara pemilu. Mulai KPU (Komisi Pemilihan Umum) hingga DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu).  Nah, apa kesibukannya setelah tak lagi di dua lembaga tersebut? Setelah selesai di DKPP RI tahun 2022, apa aktivitas ibu sekarang? Saya mengajar di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Jadi aktivitasnya ya mengajar di kampus, kemudian diskusi sama mahasiswa. Terus melakukan kegiatan pengabdian masyarakat dan melakukan penelitian, menulis jurnal ilmiah. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat banyak tuh yang masih berkaitan dengan isu pemilu dan demokrasi. Misalnya apa saja? Kita masih sering bekerja sama dengan KPU, Bawaslu, DKPP, membangun awareness masyarakat dalam bentuk kegiatan pendidikan pemilih untuk berpartisipasi melakukan pengawasan. Kemudian melakukan advokasi representasi keterwakilan perempuan bersama dengan para penggiat pemilu. Juga me...