Langsung ke konten utama

Cerita Delapan Tahun Bang Den-Kak Beda Hidup Nomaden


Bikin Hidup Minim Konflik dan Anti Bosan

Berawal dari keinginan melihat Indonesia dari dekat, pasangan Denny Hendrawan Piliang (Bang Den) dan Zubaidah (Kak Beda) telah menjalani tujuh tahun hidup nomaden atau berpindah-pindah. Pilihan hidup itu telah memberinya karakter dan perspektif memahami arti hidup.

--

Keinginan untuk berkeliling penjuru nusantara sudah berkelindan di hati Bang Den sejak remaja. Rasa penasaran itu terus tumbuh bertautan dengan mentalnya yang kian teguh. Hingga pada akhirnya, dia mulai merealisasikannya pada awal 2016 lalu. Kebetulan, Bang Den telah memiliki istri, yakni Kak Beda yang bisa menjadi teman, sekaligus partner dalam menjalani petualangannya.

Sang istri sendiri, pada mulanya tidak langsung memberikan lampu hijau. Selain menganggap obsesi tersebut aneh, terbersit juga kekhawatiran tidak mampu survive memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Wajar perempuan banyak pertimbangan," ujar Bang Den kepada Jawa Pos Rabu (22/11).

Namun, dia tak patah arang. Setiap saat, Bang Den mengajak sang pujaan hati bercerita dan bertukar pikiran perihal mimpinya itu. Sesekali, dia juga menyodorkan blog, kisah atapun film tentang pasangan-pasangan yang bisa berkeliling dunia guna meluluhkan pasangannya itu.

"Akhirnya (pikirannya) ke buka-ke buka. Butuh 4 bulan (diskusi) akhirnya istri setuju," tuturnya.

Namun, persetujuan istri belum otomatis membuka jalan. Sebab, ada orang tua Beda yang juga perlu diyakinkan. Karena bingung menjelaskan soal pilihan atas jalan hidup yang tak biasa tersebut, keduanya sempat tidak bercerita secara jujur.

"Kami bilang ke ibu bapak, kita mau berusaha hidup di kampung Sumatera. Karena ga punya bahan menjelaskan," kata pria kelahiran Sumatera Barat itu. Tapi perlahan, orang tua mengetahui setelah banyak konten di sosial media yang tersebar di kerabat Mereka pun menerima kebiasaan itu.

Dalam memulai perjalanannya, Den dan Beda hanya membawa bekal seadanya. Selain mobil Ford Everts yang sudah di desain senyaman mungkin untuk ditinggali, mereka membawa tabungan seadanya.

Misinya saat itu, hanya melakukan perjalanan panjang tanpa batas yang diketahui. Apakaj bertahan sebulan, tiga bulan, atau berapapun pokoknya nothing to lose. "Kita masuk ke tanda tanya besar yang kita ga tahu apa-apa di depan akan terjadi apa," jelasnya.

Di awal perjalanan, Den dan Beda relatif tidak banyak kendala. Dia mulai mengunjungi jengkal demi jangkal bumi nusantara dengan lancar. Kehidupan sebagai 'manusia mobil' pun mulai terbiasa dijalani. 


Persoalan baru muncul setelah memasuki bulan ke enam perjalanannya. Momen di mana cadangan uang telah habis. Tepatnya, saat menapaki daerah Aceh.

Alhasil, sejak saat itu, perjalanannya tidak lagi sebatas berkeliling. Namun juga mulai berpikir mencari uang untuk bisa survive memenuhi kebutuhan. Mereka mulai meraba-raba peluang yang bisa diambil.

Di masa kepepet itu, lantas muncul ide. Yakni mencetak kaos dan menjualnya sepanjang jalan. Besarnya kebutuhan, mampu menerabas rasa canggung dan malu yang sempat tersirat.

"Kepepet kan, kita berani jual-jual kaos kita ke komunitas, ke medsos akhirnya orang support," ceritanya. Walau belum marak, namun cukup untuk menyambung hidup.

Selain berjualan, kehidupan Den dan Beda banyak terbantu oleh orang-orang baru yang ditemui di banyak daerah. "Alhamdulillah bantuan banyak kita dapat. Komunitas mobil, motor, pecinta alam yang apresiasi perjalanan kita mereka beli kaos," kata dia.

Perlahan, situasi ekonomi sudah jauh lebih baik. Salah satu yang membantu adalah pendapatan dari hasil membuat konten di sosial media. Dari Youtube saja, sudah bisa menyokong perjalanan dalam dua tahun terakhir. Popularitas yang didapat juga lebih memudahkan dalam menjual berbagai marchaindes. "Jadi ga sesulit awal," kata sosok yang pernah bergelut di industri seni itu.

Dalam setiap perjalanannya, Den dan Beda mengisi keseharian dengan banyak aktivitas. Selain rutinitas domestik yang difokuskan di mobil, keduanya juga banyak mengeksplore dan menikmati tempat-tempat yang dikunjungi. Termasuk berinteraksi dengan orang-orang di sekitar.

Tak lupa juga, sesekali membuat konten media sosial. Urusan konten, menjadi tugas utama Den. Sementara Beda, memainkan peran di sisi logistik dan kebutuhan sehari-hari.

Keseharian seperti itu, lanjut dia, memberikan kebahagiaan tersendiri. Bahkan, Den menegaskan jauh lebih menikmati hidupnya saat ini dibanding kehidupan menetap yang pernah dilaluinya dulu. "Hidup nomanden minim konflik, ga pernah bosen juga tiap daerah baru, alam baru budaya baru, orang baru," ujarnya antusias.

Kemudian, perjalanan juga telah mengubah perilaku dalam berkeseharian. Den mencontohkan, dirinya dan Beda kini merupakan sosok minimalis. Karakter itu dibentuk oleh situasi yang memaksanya selalu bertindak efisien.

"Kita hidup di mobil kan terbatas. Mau beli satu celana aja, harus kirim satu pulang dulu," tuturnya mencontohkan. Karakter itu, lanjut dia, belum tentu bisa didapatkan di bangku-bangku sekolah.

Karena sudah terlanjur menikmati kehidupan barunya, Den menegaskan akan terus melanjutkan petualangannya. Terlebih, sang Istri juga sudah menikmati dan punya komitmen yang sama. Selama fisik mampu, tidak ada kata berhenti.

Usai lebih dari tujuh tahun berjalan, keduanya telah berkeliling dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia. Satu-satunya pulau besar yang belum di jelajahi adalah Kalimantan. Hutang satu pulau itu, akan segera ditunaikan dalam waktu dekat.

Lantas, apakah ada momen atau tempat yang paling berkesan? Den mengatakan, baginya semua tempat dan momen punya kesan tersendiri. Tidak ada yang lebih dominan satu sama lain. 

Sebaliknya, baginya yang paling berkesan adalah pelajaran hidup yang telah diambil. "Cara kita memandang kehidupan sudah jauh beda," terangnya. (far)

Tayang di Jawa Pos edisi 3 Desember 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Musikalisasi Lutung kasarung :Dikemas Modern, Relevan dengan Generasi Kekinian

  Musikalisasi Lutung Kasarung membuktikan bahwa sentuhan modernisasi dapat membuat cerita rakyat tetap relevan dan dinikmati lintas generasi. LUTUNG Kasarung adalah satu dari sekian kisah klasik yang kerap ditampilkan dalam pentas musikal. Namun, kolaborasi Indonesia Kaya-EKI Dance Company memiliki perspektif yang lebih modern. Musikalisasi Lutung Kasarung yang dipentaskan di Galeri Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta itu menyuguhkan kisah legendaris dengan sentuhan lebih segar. Konsepnya dapat memikat generasi muda tanpa meninggalkan akar budaya dan pesan moral. Mengambil latar Kerajaan Pasir Batang, pertunjukan itu mengisahkan seekor monyet ajaib yang menolong Putri Purbasari. Alur klasik itu berkelindan dengan properti canggih di panggung. Salah satunya kehadiran layar LED yang membangun nuansa hutan rimbun, istana, dan dinamika suasana lewat teknologi proyeksi visual. Musik pun begitu. Bebunyian khas Sunda dan musik lain berpadu harmonis dengan irama elektronik serta o...

Peran Penting Islam Dalam Hukum Humaniter Internasional

 Judul Buku     : Islam dan Hukum Humaniter Internasional Penulis             : Komite Internasional Palang Merah(ICRC) Penerbit           : Mizan Tahun              : 2012 Tebal halaman : XIV + 468 Halaman ISBN               : 978-979-433-696-0 Di dunia ini, benturan peradaban selalu terjadi. Tidak sedikit yang memilih kontak fisik sebagai bentuk penyelesaian. Berbagai peperangan yang bergejolak dan tercatat dalam sejarah telah mengakibatkan berbagai bencana kemanusiaan yang mengenaskan. Tengok saja konflik yang terjadi di palestina hingga saat ini, mulai dari penyerangan membabibuta -tidak mengindahkan masyarakat sipil, hingga perlakuan terhadap tawanan secara tidak man...

Ida Budhiati, Mantan Anggota KPU-DKPP yang Rajin Memberikan Edukasi Pemilu

Bicara pemilu, sulit untuk melupakan sosok Ida Budhiati. Perempuan asal Semarang ini cukup lama berkecimpung di lembaga penyelenggara pemilu. Mulai KPU (Komisi Pemilihan Umum) hingga DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu).  Nah, apa kesibukannya setelah tak lagi di dua lembaga tersebut? Setelah selesai di DKPP RI tahun 2022, apa aktivitas ibu sekarang? Saya mengajar di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Jadi aktivitasnya ya mengajar di kampus, kemudian diskusi sama mahasiswa. Terus melakukan kegiatan pengabdian masyarakat dan melakukan penelitian, menulis jurnal ilmiah. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat banyak tuh yang masih berkaitan dengan isu pemilu dan demokrasi. Misalnya apa saja? Kita masih sering bekerja sama dengan KPU, Bawaslu, DKPP, membangun awareness masyarakat dalam bentuk kegiatan pendidikan pemilih untuk berpartisipasi melakukan pengawasan. Kemudian melakukan advokasi representasi keterwakilan perempuan bersama dengan para penggiat pemilu. Juga me...