Langsung ke konten utama

Postingan

Minimnya Pendidikan Politik di Desa

(Asumsi dari maraknya praktik Money Politic dan Krusialisasi Jasa Dukun dalam sebuah Pemilihan Kepala Desa) Bagi sebagian orang, memiliki kekuasaan merupakan hal yang selalu di dambakan. Alhasil, mulai dari Pemilihan Presiden(Pilpres) hingga Pemililihan Kepala Desa(Pilkades), konfrontasi memperebutkan kekuasaan merupakan dinamika yang tidak bisa dielakan lagi. Tidak jarang, perilaku kotor seolah menjadi instrumen yang selalu mengiringi jalanya sebuah pemilu. Jika kita menyadari secara penuh, memiliki tahta atau jabatan merupakan sebuah kondisi yang berat bagi kita manusia, karena kepercayaan bukanlah hal yang murah. Tapi ibarat dua sisi mata uang, dengan jabatan pula kita akan mampu melakukan banyak hal yang sangat mempengaruhi kehidupan orang banyak. Disinilah polemik(dibaca:perang batin) seorang pemegang kekuasaan berkecambuk, pilihanya adalah menjadikan kekuasaan sebagai ladang pengabdian kepada masyarakat atau menjadikan kekuasaan sebagai alat pemuas pribadi.

Kuliah? Pilih Kampus Seimbang

Lulus SMA adalah hal yang menyenangkan, tapi masalah tidak selesai hanya karena kita mampu melewati Ujian Nasional. Bahkan harus kita akui, lulus SMA adalah gerbang awal menuju kehidupan yang sebenarnya, dimana setiap langkah akan sangat menentukan arah dari masa depan kita kelak. Sebagian orang terpaksa memilih bekerja akibat kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Dan mayoritas mereka mendambakan bisa melanjutkan ke perguruan tinggi dengan harapan bisa memperoleh kehidupan yang “lebih baik”. Tapi pertanyaanya, perguruan tinggi apa yang patut kita pilih. Tak bisa dipungkiri, salah satu alasan kita melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi adalah demi mencapai kesuksesan. Ari Ginanjar dalam konsep ESQ mengungkapkan bahwa kecerdasan intelektual(IQ) hanya mempengaruhi 20% kesuksesan seseorang, sedangkan 80% kesuksesan sangat dipengaruhi oleh kecerdasan emosional(EQ) dan kecerdasan spiritual(SQ) yang dimiliki. Itu artinya dalam mencari sebuah perguruan tinggi jangan hanya memilih k...

Sabdatama, Langkah Tepat Sultan

Dalam etikanya, sabdatama tidak bisa serta merta diucapkan raja mataram. Ketika Sri Sultan HB X mengucapkanya beberapa hari lalu, itu artinya ada sesuatu yang dirasa penting untuk segera diselesaikan. Dalam catatan sejarah, sabdatama yang diucapkan Sri Sultan HB X kemarin merupakan sabdatama kedua setelah sebelumnya pernah dilakukan oleh Sri Sultan HB IX. Secara essensi, sabdatama keduanya memiliki maksud dan tujuan yang sama yakni menjelaskan posisi bumi mataram. Sabdatama yang dilakukan sultan dirasa datang di waktu yang tepat. Peristiwa syakral itu dilakukan sultan HB IX sebagai bentuk sikap tegas keraton menanggapi berlarut-larutnya pembahasan RUUK. Jika kita menengok dari isi sabdatama tersebut, tampak jelas bahwa keistimewaan dan penetapan bagi DIY merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar. Posisi Kraton Ngayogyakarta dan Kadipaten Paku Alaman sebagai dwitunggal yang merdeka dan memiliki tatanan sendiri menjadi alasan paling rasional. Meskipun demikian, dengan kebijaksa...

Cita-cita yang Belum Tergapai

(Sebuah Rekleksi 14 tahun Reformasi) Tanpa terasa, tanggal 21 Mei 2012 mendatang usia reformasi indonesia yang meletus pada tahun 1998 lalu genap menginjak umur 14 tahun. Di umur yang tidak muda tersebut, cita-cita reformasi yang digagas mahasiswa dan aktivis sosial kala itu belum juga tercapai, bahkan dalam beberapa sektor kondisi kian memburuk. Masa transisi pencarian jati diri yang berkepanjangan membuat banyak masyarakat bingung dan bangsa ini kehilangan orientasi. Permasalahan bangsa yang semakin rumit membuat bangsa ini bingung harus berbuat apa? dan melangkah kemana?. Dari sekian banyak masalah yang timbul pasca reformasi, ada 4(empat) permasalahan yang dirasa urgent karena telah membuat bangsa ini galau berkepanjangan . Bahkan membuat sebagian masyarakat merindukan era soeharto yang pada 14 tahun silam dirobohkan paksa.  Permasalahan yang pertama adalah korupsi. Tindakan kriminal warisan penjajah Belanda tersebut memang sudah ada sejak era soeharto, namun yang m...

Lu bu ad-dakwah islamiyah

Bab I Pendahuluan Lu bu ad dakwah, atau dalam bahasa indonesia diartikan sebagai materi dakwah adalah salah satu unsur penting dalam sebuah aktivitas dakwah selain subjek, objek, tujuan, metode dan media. Bahkan dalam situasi tertentu, keberhasilan dakwah sangat bergantung dari materi yang disampaikan dai. Dakwah dalam arti luas tidak cukup jika hanya diartikan sebagai sebuah seruan ataupun ajakan. Karena dalam berdakwah ada banyak hal yang perlu disampaikan seorang dai kepada mad’u. Hal itulah yang dinamakan materi dakwah. Atau secara detailnya, materi dakwah adalah pesan-pesan atau segala sesuatu yang harus disampaikan oleh subjek kepada objek dakwah. Secara prinsip, pada hakikatnya materi dakwah Islam sangat tergantung pada tujuan dakwah yang akan dicapai. Namun jika kita klasifikasikan, maka sumber materi dakwah Islam adalah Al-Quran dan As-sunnah. Al-Quran sebagai sumber utamanya, sedangkan hadis sebagai sumber kedua yang mana berfungsi sebagai penguat dan penjelas aya...

PSSI dan Filosofi Roda

“Roda pasti berputar, ada kalanya semua harus berputar” Demikian potongan lirik lagu yang dinyanyikan ST 12 yang sempat booming beberapa bulan yang lalu. Sebuah kalimat yang di ambil dari filosofi putaran roda, yang mana dari kalimat tersebut terkandung sebuah makna yang dalam akan salah satu unsur kehidupan. Manusia ada kalanya di atas, dan ada kalanya di bawah. Pemaparan di atas bisa dijadikan gambaran kondisi PSSI saat ini. Tentu kita masih ingat ketika Nurdin Halid, Nirwan Bakrie dan kelompoknya duduk di jajaran atas PSSI selama 2003-2011, kekuasaan mereka terus di goyang oleh Arifin Panigoro dan kelompoknya. Mulai dari membuat liga tandingan LPI hingga mencapai puncaknya ketika mereka sukses mendongkel Nurdin Halid dalam kongres Solo. Dan kini kondisi tersebut telah berbalik 180 derajat, ketua PSSI Djohar Arifin yang masih bagian dari kelompok Arifin Panigoro terus digoyang anggota KPSI yang mayoritas terdiri dari orang-orang era Nurdin Halid. Tekanan itu mengalami punca...

Saatnya Rektor Menjadi Oposisi Pemerintah

Sebagai anak bangsa, sudah semestinya menginginkan yang terbaik untuk bangsanya, tak terkecuali para rektor. Meskipun rektor identik dengan akademisi, tapi bukan berarti mereka dilarang berbicara politik atau mengkritik pemerintahan. Atas dasar itulah, dibentuknya Forum Rektor Indonesia(FRI) pada 7 November 2011 atau beberapa bulan pasca reformasi, yang tentunya semakin meramaikan panasnya demokrasi di Indonesia. Pada nyatanya banyak pihak yang tidak suka dengan turut campurnya rektor ke dunia politik. Adanya UU Sisdiknas 2009 yang menyebutkan secara struktural rektor berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang secara otomatis di bawah Presiden, memaksa rektor harus sejalan dengan pemerintah. Tapi jika melihat kondisi genting bangsa yang sudah sangat menkhawatirkan, apa salahnya sedikit nakal demi kebaikan, toh apa salahnya mengingatkan yang salah? Ibarat cerita legenda, sudah saatnya semua pendekar turun gunung dalam situasi darurat.