Langsung ke konten utama

Postingan

Jelang Daluwarsa, Tuntaskan Kasus Udin

lpmarena.com,   Menjelang daluwarsanya kasus pembunuhan wartawan Bernas, Fuad Muhammad Safrudin (Udin) 13 Agustus 2014 mendatang, titik terang atas kasus yang terjadi pada 1996 tersebut belum juga terlihat. Polda DIY diharapkan mau mengusut kasus pembunuhan yang disinyalir memiliki keterpautan dengan pemberitaan yang dilakukan Udin. Kasus Udin sendiri menjadi satu dari 18 kasus kekerasan terhadap wartawan yang tidak terungkap. Hal itulah yang coba dikupas dalam dalam talkshow bertemakan “Nasib Kasus Udin” yang bertempat di Hall Udin, Gedung PKKH Universitas Gajah Mada sabtu(28/09). Hadir sebagai pembicara Marsiyem selaku istri almarhum Udin, Dwi Sumiaji (Uwik) selaku orang yang dituduh polisi sebagai pembunuh Udin, serta Heru Prasetya selaku redaktur Bernas di era Udin. Hingga saat ini, polisi masih mengklaim jika pembunuhan Udin dilatarbelakangi persoalan pribadi. Dimana udin dituduh melakukan perselingkuhan dengan istri Uwik, sehingga udin dibunuh oleh Uwik atas dasar kec...

Terperdaya Kebutuhan Palsu

Pergerakan nilai rupiah terhadap dollar Amerika terus melemah. Mengacu pada treck record beberapa tahun terakhir,  nilai tukar rupiah saat ini -yang sempat mencapai angka 11 ribu menjadi yang terburuk dalam 4 tahun terakhir. Beberapa pengamat ekonomi bahkan mengisyaratkan jika krisis 98 sangat mungkin kembali terulang. Melihat aktivitas impor yang masih tinggi, atau bahkan semakin tinggi, melemahnya nilai tukar rupiah tentu sangat mempengaruhi situasi perekonomian nasional, mengingat posisi dollar sebagai alat transaksi utama perdagangan dunia. Kondisi ini mengakibatkan harga beberapa kebutuhan,–terlebih kebutuhan yang bergantung pada komoditas impor mengalami kenaikan.

Gerakan Mahasiswa Perlu Inovasi

BBM telah resmi naik, dan aksi penolakan kenaikan harga BBM telah berakhir. Dimana bentrokan antara mahasiswa dengan masyarakat di beberapa tempat menjadi “buah tangan” dari aksi tersebut. Hal itu merupakan fenomena baru dalam demokrasi di Indonesia. Dimana masyarakat mulai berani mengkonfrontasi langsung aksi mahasiswa yang sebenarnya membela kepentingan masyarakat itu sendiri. Keresahan masyarakat terhadap aksi mahasiswa dilandasi pada citra demonstrasi yang buruk. Yang mana kerap berujung pada anarkisme, bahkan tidak sedikit diantaranya yang justru merugikan kepentingan publik. Akibatnya, cita-cita mulia yang diusung mahasiswa “kalah populer” dibanding dampak kericuhan yang kerap terjadi. Selain itu, cara pandang masyarakat sekarang sudah sangat empiris, artinya apa yang terlihat menjadi realitas yang diyakini masyarakat.

Sepotong Tempe dan Sekepal Daging

Sunyinya malam mengantarkan saya untuk mengingat masa kecil. Waktu itu saya pernah menemani seorang kawan yang tengah lahap menyantap makan siangnya sambil  ngobrol ngalor-ngidul ga karuan . Tiba-tiba dia mengeluh;  aduh.  Sontak saya menanyainya;  kenapa kamu? . Tanya saya. Tanpa sempat menjawab, dia memasukan tangan ke mulut. Seperti mencari sesuatu di sela-sela makanan yang tengah dikunyahnya. Tiba-tiba dia berucap;  ih, batu segede gini ada di nasi! . Saya hanya melongo sambil berucap;  ooh! Di tempat dan waktu yang tidak jauh berbeda, saya pernah menyaksikan sebuah truk pasir terlilit kubangan tanah yang becek karena hujan. Berapa lelaki dewasa berusaha menolong. Salah seorang tetangga lantas mendapati sebiji batuan untuk mengganjal roda truk, agar truk terlepas dari kubangan dan kembali berjalan. Tapi tetangga saya yang lain mengatakan;  Itu batunya kekecilan, cari yang gede . Saya pun cuma melongo. Mengapa saya tidak protes se...

Menaklukan Logika Pengusaha Gila Bola

Erick Thohir adalah salah satu pengusaha sukses Indonesia yang menjadi perbincangan hangat media-media di Italia beberapa pekan terakhir. Upaya pemilik klub DC United untuk membeli 80 persen saham klub Internazionale Milano jelas bukan berita kecil. Inter merupakan salah satu klub raksasa di Italia. Terlebih, upaya Erick tersebut akan merubah sejarah Inter karena Massimo Moratti dan ayahnya merupakan penguasa klub berjuluk Nerazzurri itu dalam beberapa dasawarsa terakhir. Uang tunai 260 juta euro atau setara 3,1 triliyun rupiah siap digelontorkan pengusaha gila bola itu, demi menguasai mayoritas saham klub yang telah meraih tiga gelar Liga Champion tersebut. Bahkan dalam proposalnya, Erick menawarkan 1,3 triliyun rupiah untuk belanja pemain di awal musim.

Arni Yuniarti : Lakukan Saja Yang Terbaik

lpmarena.com,   Arni Yuniarti. Itulah nama salah satu mahasiswi terbaik yang dimiliki UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sosok yang terdaftar sebagai mahasiswa semester VI prodi Komunikasi Penyiaran Islam, fakultas Dakwah itu sukses menyabet Juara 1 Lomba Presenter yang diselenggarakan TV ONE (15-16/06) lalu. Keberhasilanya menjadi   Oase ditengah citra negatif mahasiswa UIN Suka dimata masyarakat Jogja belakangan ini. Sebelumnya, ia juga menggondol Juara 1 Lomba Reporter pada 1 st   Anniversary UIN Todays dan sanggup menembus 8 besar Lomba Presenter Televisi Nasional di Surabaya, beberapa bulan yang lalu. Keberhasilan seseorang tidak pernah lepas dari kerja keras dan sosok dibelakangnya, begitu orang bijak mengatakan. Nah, sebenarnya apa sih kunci dibalik pencapaianya hingga saat ini? Dan siapa sosok yang paling memotivasi wanita kelahiran Yogyakarta tersebut. Berikut hasil wawancara yang dilakukan crew ARENA bersama Arni Yuniarti : Aura seperti apa yang anda rasakan...

Takdir Itu Diujung Ikhtiar

“ ..Takdir itu berada diujung ikhtiar nak… ” Itulah kalimat yang terucap oleh salah seorang dosen dalam sebuah perkuliahan beberapa bulan yang lalu. Sebuah kalimat yang menurut hemat saya memiliki kandungan makna yang sangat dalam. Sebuah kalimat yang memiliki kapasitas untuk memberikan pencerahan dalam upaya kita memaknai takdir. Dalam ajaran Islam, takdir dimaknai sebagai seperangkat ketentuan yang telah Allah SWT gariskan atas hidup manusia. Atas dasar itu, teramat jelas jika takdir memiliki peran fundamental bagi kehidupan manusia. Di tubuh umat Islam sendiri, perbedaan dalam memahami takdir telah melahirkan beberapa aliran. Perdebatan aliran-aliran tersebut berpangkal pada satu pertanyaan, yakni apakah segala yang terjadi atas hidup manusia merupakan akibat dari perilaku manusia itu sendiri, atau atas murni kehendak Allah SWT. Setidaknya ada dua aliran yang memiliki perbedaan cukup mencolok dalam memahami takdir, diantaranya: