Langsung ke konten utama

Postingan

Pemuda dan Gerakan “Cerdas Memilih”

                Pemilihan Umum (Pemilu) legislatif yang akan digelar serentak pada 9 April mendatang tinggal menghitung hari. Hajatan yang menjadi wujud demokrasi tersebut digadang-gadang akan menentukan nasib bangsa Indonesia, setidaknya dalam lima tahun ke depan. Milihat besarnya urgensi pemilu, terselenggaranya pemilu yang berkualitas –yang menghasilkan wakil rakyat yang kompeten menjadi hal yang perlu diperjuangkan oleh seluruh elemen bangsa, tak terkecuali pemuda. Jika menengok sejarah, peran pemuda dalam perjalanan bangsa Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Pada era pra kemerdekaan, pemuda mampu menggalang semangat persatuan (nation) yang diwujudkan dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Pada era pasca kemerdekaan, kita mengenal generasi 65, peristiwa Malari 1974, hingga reformasi 98 yang memiliki dampak dalam keberlangsungan bangsa Indonesia hingga hari ini. Semua catatan sejarah tersebut merupakan bukti riil, jika pemuda memiliki posi...

Bencana Datang, Data Tak Lagi Hilang

   Bencana seperti banjir, kebakaran, gempa bumi, erupsi gunung berapi, hingga tsunami merupakan sederet musibah yang sewaktu-waktu bisa melanda tempat dimana kita tinggal. Hidup di negara yang rentan dengan bencana alam seperti Indonesia memaksa kita untuk bisa bersikap cermat. Artinya, segala kemungkinan terburuk yang ditimbulkan oleh bencana, sebisa mungkin diminimalisir.     Merujuk pada bencana yang pernah terjadi, ‘amukan alam’ kerap kali meluluhlantakkan apa saja yang menjadi kehendaknya, tak terkecuali benda-benda yang ada di rumah atau kantor tempat kita bekarja. Alam tidak lagi memilih, apakah benda tersebut kesayangan kita, apakah benda tersebut penting bagi kita, dan setumpuk pertimbangan lainnya. Lalu bagaimana jika komputer atau laptop yang menyimpan data-data ‘maha penting’ ikut tersapu bencana? Mungkin inilah yang dimaksud dengan ‘ sudah jatuh tertimpa tangga’ .

Lepas 797 Wisudawan, Musa Asyarie Berpesan Dua Hal

lpmarena.com,  UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melepas 797 wisudawan  dan wisudawati dari tingkat diploma, sarjana, magister, hingga doktoral pada prosesi Wisuda Periode II tahun pelajaran 2013/2014. Acara yang digelar di Gedung Multi Purpose UIN tersebut akan berlangsung dua tahap, yakni sabtu (05/04) dan Minggu (06/04). Dalam prosesi wisuda tahap pertama Sabtu (05/04), Rektor UIN Sunan Kalijaga mengingatkan para wisudawan untuk memegang teguh integritas dan profesionalitas. “Kalau dua ini kalian   punyai , Tuhan yang akan selalu memberkati,” ujar Musa dalam sambutan. Lebih lanjut Musa menjelaskan, integritas diperlukan dalam menghadapi kehidupan yang semakin dikuasai uang. Menurutnya, meskipun uang menentukan, tapi bukan segala-galanya. “Jagalah integritas, atau dalam bahasa Al-Quran-nya Iman.   Adek-adek   harus menjadi orang-orang yang dapat dipercaya. Karena salah satu   problem   terbesar di negeri ini adalah integritas. Jika Kalian tid...

Soal Abu Vulkanik, Hindari Penanganan yang Parsial

Hembusan angin yang bertiup ke arah barat kala Gunung Kelud meletus membuat Jogja menjadi salah satu kota yang terkena dampak abu vulkanik. Jika dibandingkan erupsi merapi tahun 2010, kondisi udara di Jogja saat ini jauh lebih parah. Tak ayal, rutinitas masyarakat Jogja di berbagai sektor nyaris lumput. Sultan pun langsung menetapkan status “DIY tanggap bencana” selama seminggu. Tak hanya itu, dana miliyaran rupiah juga siap digelontorkan pemerintah Kota Jogja guna menanggulangi abu vulkanik. Hingga status tanggap bencana berakhir, berbagai upaya yang dilakukan pemerintah dan masyarakat belum mampu menghilangkan abu vulkanik sepenuhnya. Terbukti, kepulan debu masih kerap menyelimuti berbagai wilayah di Jogja, terlebih di jalan raya. Tentu ini bukanlah kondisi yang nyaman bagi masyarakat. Akibatnya, sultan menginstruksikan seluruh warga DIY melakukan kerja bakti.

Sea Games 2013 Jeblok, Menuntut Keseriusan Pemerintah

Pencapaian kontingen Indonesia dalam Sea Games 2013 di Myanmar tidaklah menggembirakan. Datang dengan status juara bertahan, Indonesia hanya berada di peringkat empat dibawah Thailand, tuan rumah Myanmar dan Vietnam. Dari 36 cabang, hanya 5 cabang yang memenuhi target yang dipatok. Dengan jumlah sumber daya manusia terbesar di ASEAN, pencapaian tersebut sangatlah ironis. Jika melihat sejarah keikutsertaan Indonesia dalam Sea Games yang dimulai pada 1977, Indonesia memiliki dominasi mutlak. Bahkan dalam kurun waktu 1977-1997, Indonesia sanggup menyabet 9 kali juara umum dari 11 kali penyelenggaraan. Tapi angka tersebut hanya menjadi masa lalu yang indah, selanjutnya prestasi atlet Indonesia terus menurun. Bahkan pada kurun waktu 1999-2009, prestasi terbaik Indonesia hanyalah peringkat ketiga. Barulah pada Sea Games 2011 di Palembang, Indonesia sanggup menjadi juara umum dengan status tuan rumah. Dan kini Indonesia kembali terlempar di peringkat empat.

Tahun Kerja Selesai, Next?

Tak terasa, tahun 2013 tinggal menyisakan beberapa hari. Itu artinya, tidak kurang dari 350 hari telah dilewati bangsa Indonesia di tahun 2013, yang katanya tahun kerja. Begitu banyak hal terjadi dalam rentan waktu tersebut, baik yang bernuansa positif maupun negatif. Sebagaimana biasanya, tidak ada salahnya jika penghujung tahun kita jadikan momen untuk muhasabah , sebagai tolak ukur dalam memulai langkah di lembaran yang baru. Pertumbuhan ekonomi yang stabil, kerja keras KPK yang mulai menghasilkan, hingga munculnya tokoh-tokoh calon pemimpin alternatif mewakili sisi postif yang tampak menjelang tahun 2014 mendatang. Adapun carut marut transportasi, meningkatnya kekerasan, hingga runtuhnya wibawa aparat penegak hukum menjadi sisi negatif yang terlihat sepanjang tahun, melengkapi isu laten seperti korupsi dan kolusi.

Soal Miras, Sinergikan Regulasi dan Kearifan Lokal

Dewasa ini, kasus kematian akibat minuman keras (Miras) oplosan telah menjadi fenomena yang biasa, khususnya di DIY. Terakhir, dua warga Bantul tewas pasca menenggak miras oplosan setelah dua warga Sleman mengalami hal yang sama pada bulan November. Peristiwa demi peristiwa yang terjadi seolah tidak pernah dihiraukan masyarakat. Dengan penuh kesadaran, para oknum terus melakukannya. Disaat yang sama, hingga saat ini pemerintah terkesan tidak responsif dalam menangani persoalan ini. Padahal dalam konstitusi telah disebutkan jika negara memiliki kewajiban untuk melindungi setiap warganya. Jadi walau bagaimanapun kondisi yang melatarbelakangi, pemerintah tetap dituntut mengambil kebijkan.