Langsung ke konten utama

Postingan

Jangan "Anget-anget Tahi Ayam"

Tragedi miras (minuman keras) oplosan yang berujung maut seolah telah menjadi rutinitas tersendiri. Bagaimana tidak? di wilayah Yogyakarta saja siklusnya terus berjalan setiap beberapa bulan sekali. Terbaru, 4 orang tewas mengenaskan setelah pesta minuman haram tersebut di Sleman beberapa hari lalu. Baik masyarakat selaku pelaku, maupun pemerintah selaku pemegang otoritas kebijakan, seolah tidak pernah belajar –atau mungkin menutup mata– atas kejadian serupa yang terus berulang. Mengaca pada yang sudah terjadi, isu soal miras oplosan selalu menjadi perbincangan yang hangat, dan mendadak mendapatkan perhatian khusus kala ada korban yang berjatuhan seperti saat sekarang ini. Tapi selang beberapa waktu, biasanya persoalan ini akan menguap tanpa sempat melakukan upaya penyelesaian yang menyeluruh. Alias “ anget-anget tahi ayam ”. Akibatnya, peristiwa serupa pun kembali terjadi. Begitu seterusnya. Sebagai makhluk yang berakal, tentu kita tidak menginginkan peristiwa nahas itu kemb...

Pembelaan Abidah El Khalieqy Terhadap Istri Teroris

Lpmarena.com,   Saat ini, ada semacam budaya yang mewajibkan istri untuk mengikuti suami dalam berbagai aspek, tak terkecuali ideologi. Akibatnya, istri selalu mendapatkan imbas dari apa yang menjadi pilihan suami. Hal-hal semacam inilah yang harus diterima para istri teroris. Dalam keseharian, para istri teroris turut mendapatkan perlakuan diskriminatif, baik dari pemerintah maupun masyarakat sekitar. Fenomena ini diungkapkan Abidah El Khalieqy dalam   launching   dan bedah buku karyanya berjudul   Akulah Istri Teroris   di Teatrikal Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sabtu pagi (15/11). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. “Saya berusaha untuk menyerukan suara-suara orang yang dimarjinalkan (istri teroris- red ),” ungkapnya. Dalam buku tersebut, Abidah mengisahkan kehidupan sehari-hari tokoh utama bernam...

Timnas dan Integrasi Liga-Liga ASEAN

Pagelaran Piala AFF 2014 tinggal menghitung hari. Indonesia, seperti biasanya memasang target juara pada pesta sepak bola se-Asia Tenggara tersebut. Maklum, dari sembilan kali kesempatan, tim garuda belum sekalipun merasakan manisnya juara. Sayangnya, tingginya target tersebut tidak berbanding lurus dengan persiapan yang dilakukan. Hingga detik ini, atau bahkan hingga seminggu ke depan, skuad timnas senior yang tengah melakukan pelatnas belum juga utuh. Dari 35 nama yang dipanggil, hanya 11 nama yang sudah berlatih bersama dalam tiga minggu terakhir. Alhasil, beberapa pemain jebolan Timnas U-19 yang baru saja tiba di tanah air pun dipaksa ikut “menemani” senior-seniornya berlatih. Molornya jadwal ISL –yang merupakan buntut penyelenggaraan Pemilu dan Piala Dunia di pertengahan tahun lalu adalah penyebabnya. Sebagian besar pemain timnas pun masih berjibaku membela klubnya merengkuh title ISL 2014 hingga 8 November mendatang. Sisa-sisa tenaga pasca “pertempuran” inilah, yang nanti a...

Menanti E-Blusukan Presiden Jokowi

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) secara resmi melantik  Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, Senin (20/10) lalu. Seolah gatal dengan kebiasaannya, beberapa jam setelah menyandang gelar orang nomor satu di Indonesia, Jokowi langsung blusukan ke berbagai wilayah di Indonesia. Bedanya, Jokowi menggunakan fasilitas teleconference dalam blusukan pertamanya sebegai presiden. Jokowi menyebut aktivitas tersebut dengan istilah “e-blusukan”, atau blusukan menggunakan perangkat elektronik. Blusukan merupakan aktivitas yang akrab dengan Presiden yang juga pengusaha mebel tersebut. Rutinitas turun ke masyarakat, bertemu dengan masyarakat, mendengarkan aspirasi masyarakat –yang nantinya digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan menjadi style Jokowi dalam memimpin, baik ketika menjabat Walikota Solo, maupun Gubernur DKI Jakarta. Besar kemungkinan, metode yang sama juga akan dia praktikkan dalam memimpin Indonesia. ...

Munaqosah dan Ulah Orang Kaya

Dalam dua minggu terakhir, saya menghadiri Munaqosah Zaki dan Misbah. Keduanya merupakan kawan kuliah saya satu angkatan. Munaqosah , kalau di kampus lain disebut sidang skripsi. Karena kampus saya basic -nya Islam, istilahnya pun menggunakan bahasa arab. Tapi, whatever , apalah arti sebuah nama. Dalam acara Munaqosah tersebut, kedua teman saya sama-sama membawa makanan yang cukup “wah” untuk ukuran orang seperti saya –yang selalu dekat dengan tempe dan kerupuk. Zaki membawa 4 kotak Brownies Amanda, sedangkan Misbah membawa 4 box sneck mewah, dan 1 tas berisi belasan roti, serta makanan ringan lainnya. Kejadian ini menjawab pertanyaan saya 3 tahun yang lalu. Kala itu saya melihat banyak makanan di meja, di luar Ruang Munaqosah . Waktu itu Ruang Munaqosah masih di lantai dua fakultas. Ada 4 kotak Nasi Padang, dan beberapa box jajanan seperti Chocolatos, Wafer dan lain sebagainya. Pada waktu itu saya bertanya-tanya, untuk apa makanan ini? Sekarang saya tahu jawabanya, makanan ...

Kemana Petani Mencari Nyawanya?

Meski hidup di kota, saya beruntung masih bisa mendapatkan kost yang dekat dengan sawah. Meski tidak begitu luas, tapi beberapa petak sawah tersebut sanggup memberikan kenyamanan yang cukup untuk ukuran kota besar seperti Jogjakarta. Selain jauh dari hiruk-pikuk kendaraan, suara katak dan jangkrik masih bisa saya jumpai di dalam kegelapan dan kesunyian malam, khususnya di musim penghujan. Sungguh nyaman! Sawah-sawah tersebut cukup produktif. Jika saya tidak salah mengamati, dalam satu tahun masih bisa panen 2 sampai 3 kali, meski yang ketiganya hanya menghasilkan jagung atau singkong. Nyawa sawah tersebut sangat bergantung pada sungai –atau lebih cocoknya disebut selokan kecil yang mengalir sepanjang Gang Salak, Sorowajan Baru. Selokan tersebut mengalir dari utara ke selatan, layaknya sungai-sungai yang ada di Jogja. Di musim hujan, aliran air di selokan tersebut lumayan deras, atau minimalnya mengalir lancar. Tapi di musim kemarau, selokan tersebut lebih mirip tempat sampah. ...

MEA Menantang Pemerintahan Baru

Tampuk kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang telah berlangsung 10 tahun akan segera berakhir. Pemilihan Presiden yang telah dilaksanakan 9 Juli lalu melahirkan pasagan Jokowi-JK sebagai penggantinya. Berbagai persoalan –baik persoalan laten maupun persoalan baru telah menantinya. Di kepemimpinan keduanya lah, wajah Indonesia lima tahun ke depan akan ditentukan. Lalu, apa tantangan terbesar pemerintahan baru? Sebagai negara berkembang, persoalan elementer tentu masih menjadi menjadi “menu utama” yang wajib disantap pemerintahan baru dibawah kendali Jokowi-JK. Sebut saja masalah pemerataan pendidikan, jaminan kesehatan, kesenjangan sosial, infrastruktur, dan persoalan mendasar lainnya. Persoalan dasar itu menjadi penting untuk segera diselesaikan, guna menghadapi tantangan besar lainnya yang sudah tampak di depan mata, yakni globalisasi yang salah satu dampaknya adalah perdagangan bebas.   Perjanjian untuk mengintegrasikan perekonomian kawasan ASEAN, atau dikenal ...