Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Musikalisasi Lutung kasarung :Dikemas Modern, Relevan dengan Generasi Kekinian

  Musikalisasi Lutung Kasarung membuktikan bahwa sentuhan modernisasi dapat membuat cerita rakyat tetap relevan dan dinikmati lintas generasi. LUTUNG Kasarung adalah satu dari sekian kisah klasik yang kerap ditampilkan dalam pentas musikal. Namun, kolaborasi Indonesia Kaya-EKI Dance Company memiliki perspektif yang lebih modern. Musikalisasi Lutung Kasarung yang dipentaskan di Galeri Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta itu menyuguhkan kisah legendaris dengan sentuhan lebih segar. Konsepnya dapat memikat generasi muda tanpa meninggalkan akar budaya dan pesan moral. Mengambil latar Kerajaan Pasir Batang, pertunjukan itu mengisahkan seekor monyet ajaib yang menolong Putri Purbasari. Alur klasik itu berkelindan dengan properti canggih di panggung. Salah satunya kehadiran layar LED yang membangun nuansa hutan rimbun, istana, dan dinamika suasana lewat teknologi proyeksi visual. Musik pun begitu. Bebunyian khas Sunda dan musik lain berpadu harmonis dengan irama elektronik serta o...

Ida Budhiati, Mantan Anggota KPU-DKPP yang Rajin Memberikan Edukasi Pemilu

Bicara pemilu, sulit untuk melupakan sosok Ida Budhiati. Perempuan asal Semarang ini cukup lama berkecimpung di lembaga penyelenggara pemilu. Mulai KPU (Komisi Pemilihan Umum) hingga DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu).  Nah, apa kesibukannya setelah tak lagi di dua lembaga tersebut? Setelah selesai di DKPP RI tahun 2022, apa aktivitas ibu sekarang? Saya mengajar di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Jadi aktivitasnya ya mengajar di kampus, kemudian diskusi sama mahasiswa. Terus melakukan kegiatan pengabdian masyarakat dan melakukan penelitian, menulis jurnal ilmiah. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat banyak tuh yang masih berkaitan dengan isu pemilu dan demokrasi. Misalnya apa saja? Kita masih sering bekerja sama dengan KPU, Bawaslu, DKPP, membangun awareness masyarakat dalam bentuk kegiatan pendidikan pemilih untuk berpartisipasi melakukan pengawasan. Kemudian melakukan advokasi representasi keterwakilan perempuan bersama dengan para penggiat pemilu. Juga me...

Art Jakarta Gardens 2025, Perpaduan Paripurna Alam dan Seni

Art Jakarta Gardens 2025 sekali lagi membuktikan bahwa alam merupakan sekutu seni yang paling loyal. ALAM dan seni merupakan dua hal yang saling menopang. Alam kerap menjadi sumber inspirasi bagi ekosistem seni. Sebaliknya, seni tampil sebagai pembela ekologi atas kondisi alam. Simbiosis yang syahdu tersebut sangat terasa di Art Jakarta Gardens 2025. Pameran yang dilaksanakan pada 22–27 April itu dilaksanakan di hutan kota, tepatnya Hutan Kota by Plataran Gelora Bung Karno. Kesejukan dan ketenangan menyaksikan karya bertautan dengan rindangnya pepohonan, hamparan rumput hijau, dan gemericik air. Art Jakarta Gardens 2025 merupakan ajang yang kali keempat digelar. Tahun ini acara itu diikuti 25 galeri seni di Indonesia. Di antaranya ISA Art, Jagad Gallery, Art Agenda, Artsphere Gallery, dan Vice & Virtue. Ada juga karya-karya personal seniman dari lintas genre dan generasi. Mulai dari Maestro patung Nyoman Nuarta, seniman kontemporer bergaya pop-surrealism Arkiv Vilmansa, hin...

Pameran Mula Pala-Pala Mula ISA Art, Visualisasi Isi Hati Pemuda Tubaba

  Pameran Mula Pala-Pala Mula memberikan perspektif yang menggugah terhadap kata memelihara. MULA Pala-Pala Mula merupakan pameran hasil kolaborasi ISA Art Gallery, Art at WTC Jakarta Land, dan Yayasan Sekolah Seni Tubaba. Sekolah itu merupakan lembaga pendidikan seni alternatif yang berdiri di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, sejak 2016. Kurasi pameran itu tak hanya menyajikan karya-karya seni rupa siswa dan pengajar Sekolah Seni Tubaba. Penikmat seni akan mendapat pengalaman kontemplatif mengenai pentingnya akar, baik sebagai sumber, penjaga, maupun penuntun kehidupan. Judul pameran berasal dari bahasa Sanskerta: (Akar sebagai Penjaga) dan (Penjaga Akar). Kalimat itu menegaskan hubungan saling menjaga antara pengetahuan dan generasi penerus. Exhibition Assistant Manager ISA Art Gallery Kenenza Michiko mengatakan bahwa memelihara menjadi napas utama ekshibisi tersebut. Memelihara yang dimaksud adalah aktif merawat nilai-nilai, tradisi, dan keberagaman den...

Ekshibisi Ghost Nets di Museum Bahari, Wujud Kampanye Penyelamatan Lingkungan Selat Torres

Karya seni pada beberapa topik dapat berperan sebagai pemantik kritik sosial yang ampuh. FUNGSI seni sebagai pengingat akan hal-hal kritis diperlihatkan pada pameran Ghost Nets: Awakening the Drifting Giants. Sebanyak 18 patung tenun tangan yang menjadi objek pada ekshibisi itu menguatkan titel acara. Yang kurang lebih dapat diartikan sebagai Jaring Setan: Membangkitkan Raksasa yang Terombang-ambing. Karya-karya pada event itu dapat dinikmati di Museum Bahari Jakarta hingga 31 Agustus 2025. Sebanyak 18 patung tersebut diciptakan Erub Arts, kumpulan perupa asal Erubam (Pulau Darnley) di Kepulauan Selat Torres, Australia. Mereka di antaranya Ellarose Savage, Emma Gela, Florence Gutchen, Jimmy John Thaiday, Jimmy K. Thaiday, Lavinia Ketchell, Nancy Naawi, dan Racy Oui-Pitt. Para seniman itu menggunakan jaring-jaring nelayan sebagai bahan dasar. Jaring itu lantas dibentuk menjadi berbagai macam biota laut yang ada di perairan Australia hingga berbatasan dengan Indonesia. ”Di daerah A...

Pameran Gatot Pujiarto, Eksplorasi Seni Lukis dengan Teknik Tapestri

  Gatot Pujiarto menempuh jalan lain dalam menuangkan gagasan di atas kanvas. Dia menggunakan model seni Tapestri dalam menciptakan dimensi dan tekstur pada karyanya. PADA  umumnya, kanvas dipadukan dengan cat dalam karya seni rupa lukisan. Namun, seniman asal Malang Gatot Pujiarto asyik bereksplorasi dengan model seni Tapestri dalam beberapa tahun terakhir. Pendekatan visual itu memungkinkan Gatot menyatukan elemen-elemen tekstil pada sebuah karya lukis. Karya-karya Tapestri Gatot tersebut tengah disuguhkan Jagad Gallery Jakarta dalam pameran bertajuk Stitching Gesture: Gatot Pujiarto’s Expanded Painting. Pameran itu dibuka hingga 23 Maret 2025. Di situ, setidaknya ada dua karya Tapestri dan belasan karya expanded painting. Dua sajian Tapestri ada pada karya berjudul Mimpi dan Berburu Emas. Karya Mimpi yang paling menonjol karena berukuran paling bebas. Mimpi terbentang di sebuah kanvas tanpa bingkai. Di dalamnya terdapat jahitan benang dan kain perca dengan gambar-gamb...

Mengunjungi Wisma Habibie & Ainun, Legasi Cinta, Intelektual dan Demokrasi

Keteladanan hidup Presiden dan Ibu Negara ke-3 RI, Habibie dan Ainun, tak henti-henti menginspirasi. Dari buku, film trilogi, kini kediaman pribadinya dibuka untuk publik. Menghadirkan pengalaman tur sejarah yang penuh makna. Lima hari pertama pendaftaran dibuka, sepuluh ribu orang lebih, dari dalam dan luar negeri, masuk daftar antrean. Rumah adalah tempat di mana hati kita berada. Cermin kepribadian seseorang, juga terlihat dari rumahnya. Lebih dari adagium itu, kediaman pribadi pasangan inspiratif Bacharuddin Jusuf Habibie dan Hasri Ainun Besari sarat nilai-nilai kehidupan. Kediaman pribadi yang kini menjadi Wisma Habibie & Ainun dan dibuka untuk publik secara eksklusif mulai 1 Februari itu benar-benar mencerminkan sosok keduanya. Yakni, cinta, intelektual, demokrasi, dan religiusitas. Nuansa itu sangat kuat terasa di berbagai sudutnya, saat Jawa Pos berkesempatan mengunjunginya, di kawasan Patra Kuningan, Jakarta pekan lalu (22/2). Ketika pintu pertama dibuka, kenegarawan...

Museum Bahari Jakarta Helat Ekshibisi Membangun di Lahan Basah

Sejarah Jakarta atau yang dulu dikenal dengan Batavia tak terlepas dari dunia bahari. Teluk Jakarta yang terbentuk dari sedimentasi menjadi saksi sibuknya kawasan Sunda Kelapa, pintu masuk perdagangan internasional. CATATAN  sejarah itu berupaya diingatkan kembali oleh Museum Bahari Jakarta dalam pameran bertajuk Membangun di Lahan Basah yang dihelat hingga 22 Juni 2025. Tema itu mengacu pada dua makna. Pertama, kawasan utara Jakarta yang secara geografis berdiri di lahan hasil sedimentasi. Kedua, Jakarta menjadi sebuah titik perkembangan yang strategis. Edukator Museum Bahari Firman Faturohman menjelaskan, pameran itu berawal dari buku Westzijdsche Pakhuizen Batavia 1652–1977 yang membahas asal mula Museum Bahari yang menempati gudang logistik pelabuhan di masa VOC. Visualisasi seni dihasilkan sejumlah seniman, kolaborator Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA), perancang dari SK Studio, dan Program Studi Arsitektur Universitas Indonesia (UI). Secara umum, pameran itu dibagi menjadi e...

Natasha Tontey Helat Ekshibisi Bertajuk Primate Visions: Macaque Macabre

Manusia dan hewan akan terus saling berhubungan sebagai salah satu ketetapan alam. Tentu dengan berbagai pasang surutnya. Pameran dari perupa Natasha Tontey memotret salah satu bagian kecil dari hal itu. Pameran Natasha Tontey yang bertajuk Primate Visions: Macaque Macabre itu dihelat di Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN), Jakarta. Tontey mengisahkan hubungan antara populasi monyet makala jambul hitam asli Minahasa Selatan yang disebut yaki dan masyarakat adat setempat. Oleh sang perupa, interaksi itu dihadirkan dalam semesta fiksi berwujud film dan objek-objek instalasi. Keduanya mengelaborasikan hubungan simbiosis antara hewan dan manusia. Film yang merupakan bagian utama mengisahkan sekelompok ahli primata yang membebaskan kawanan yaki yang dikurung di sebuah hutan. Para tokoh protagonis itu terlibat dalam percakapan dan eksperimen sembari membayangkan hubungan dua spesies tersebut di masa depan. Tontey mengajak audiens memasuki realitas fiktif. Proses itu di...