Langsung ke konten utama

Postingan

Mahalnya Sebuah Loyalitas Lereng Merapi

OLEH : FOLLY AKBAR Loyalitas dan kesetiaan warga lereng merapi terhadap daerah mereka sungguh luar biasa, bahkan membuat masyarakat di daerah lain gemas dan geleng-geleng kepala. Keganasan erupsi merapi yang sering meluluh-lantakan wilayah mereka tidak mengurungkan keteguhan hati mereka untuk tetap tinggal di lereng merapi. Kali ini ujian kesetiaan mereka kembali diuji, ditengah renovasi akibat erupsi 2010 lalu yang masih terbengkalai, gunung teraktif di dunia tersebut dikabarkan akan menemui janjinya kembali. Bisa dirasakan perasaan dilematis dibenak masyarakat setempat, keputusanya menetap dilereng merapi menyebabkan mereka merasakan pahitnya buah simalakama. Di satu sisi mereka bisa mempertahankan tanah kelahiranya, tapi disisi lain mereka harus siap dengan segala resiko terburuk yang ditimbulkan merapi. Toh kalaupun harus pindah, mereka bingung harus pindah kemana?

KKN Bukan Formalitas

OLEH : FOLLY AKBAR Selain untuk memenuhi tridarma pendidikan, gelar mahasiswa sebagai agent of change memaksanya untuk berperan dalam dinamika sosial. Salah satu upaya yang dilakukan untuk memenuhi dua tuntutan tersebut adalah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata(KKN). Jika melihat sejarah dimana pergerakan mahasiswa masih begitu aktif, mungkin dulu KKN merupakan hal yang biasa, karena hampir setiap saat, waktu yang dimiliki mahasiswa dihabiskan untuk menyelesaikan masalah sosial. Tapi ditengah kondisi pergerakan mahasiswa yang sudah tidak masiv, bahkan cenderung apatis, KKN bisa dikatakan sebagai satu-satunya media yang digunakan untuk menjaga konsistensi mahasiswa dalam peranan sosialnya. Jadi pelaksanaan KKN harus mampu dimaksimalkan dengan baik.

Tumbal Kuliah Mahal

OLEH : FOLLY AKBAR Menginjak satu semester pelaksanaan perkuliahan yang di lakukan mahasiswa baru, keluh-kesah masih kerap terlontar dari mulut mereka. Diantara banyaknya faktor penyebabnya, mayoritas mereka yang mengeluh karena tidak masuk di universitas yang diharapkanya ketika SMA dulu. Gagal kuliah di universitas yang di inginkan adalah hal perih yang tidak diharapkan setiap mahasiswa. Akan tetapi, ketika keadaan telah memaksanya untuk demikian, sulit rasanya untuk menampikan pil pahit tersebut. Dan pada akhirnya kuliah di universitas yang tidak di inginkan sama sekalipun harus dijalani “tak ada rotan, akarpun jadi”.

Budaya Ngebut Maut

OLEH : FOLLY AKBAR Alon-alon asal kelakon yang artinya pelan-pelan yang penting sampai(dengan selamat). Begitu pepatah jawa mengatakan bagi siapa saja yang hendak berkendaraan. Luar biasa nenek moyang kita mengingatkan kita generasi muda dengan sebuah ungkapan simpel namun memiliki makna yang penting bagi kita. Apapun alasanya, keselamatan menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Tapi saat ini masyarakat sudah tidak lagi menghiraukan pesan tersebut, indikasinya bisa kita lihat dari maraknya kecelakaan lalulintas. Yang ada dibenak masyarakat sekarang adalah “ cepat atau lambat, kalo waktunya mati ya mati ”. Seolah tidak belajar dari peristiwa sebelumnya, kecelakaan maut terjadi beruntun tiada akhir dari waktu ke waktu. Tak tanggung-tanggung, sekali nabrak belasan nyawa orang tidak bersalah  melayang.

Selamatkan Jurusan Agama di PTAI

OLEH : FOLLY AKBAR Perkembangan teknologi dan globalisasi sangat memberikan dampak yang teramat besar bagi kehidupan manusia. Dampaknya begitu terasa di semua lini kehidupan tak terkecuali dalam bidang pendidikan. Kondisi zaman yang segala aktivitasnya menggunakan hasil teknologi memaksa institusi pendidikan khususnya Perguruan Tinggi(PT) untuk mencetak para ilmuwan demi tuntutan pasar. Atas tuntutan pasar itulah, mayoritas PT berlomba-lomba membuka jurusan yang sifatnya sains dan ilmu sosial. Bahkan Perguruan Tinggi Agama Islam(PTAI) turut banting setir dengan membuka jurusan yang sifatnya tidak agamis lagi. Banyak STAIN konversi menjadi IAIN, yang IAIN ingin konversi menjadi UIN yang notabenya boleh membangun fakultas umum. Sehingga potensi untuk bangkrut relatif lebih kecil mengingat jurusan umum lebih diminati ketimbang jurusan agama.

Menyorot Dakwah FPI

Akhir-akhir ini Fornt Pembela Islam(FPI) yang diketuai Habib Rizieq Shihab kembali menjadi sorotan publik di berbagai daerah. Penolakan beberapa masyarakat Kalimantan Tengah terhadap kedatangan pengurus pusat menuai tanda tanya. Ironis memang, sebagai kelompok yang mengklaim dirinya sebagai pejuang kebenaran ternyata kedatanganya tidak diharapkan masyarakat setempat. Apakah peristiwa tersebut menjadi puncak gunung es dari keresahan masyarakat terhadap FPI? Kejadian ini merupakan ajang introspeksi diri bagi FPI dan pihak terkait. Rasa keberatan masyarakat pun beralasan, selama ini FPI identik dengan kekerasan dalam menjalankan aktivitas dakwahnya. Sepak terjang ormas yang dikenal garang tersebut memang menuai kontroversi pro dan kontra di masyarakat. Dalam data Polri, tercatat 29 kasus pada tahun 2010 dan 5 kasus ditahun 2011 yang mengatasnamakan FPI. Amatlah disayangkan, niat mulia yang diusung FPI tidak dikemas dengan kemasan yang baik. Ibarat makanan, FPI adalah makanan sehat ya...

KLB Harga Mati

Dengan lengsernya rezim Nurdin Halid ternyata tidak menyelesaikan masalah yang ada di Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia(PSSI). Rezim Djohar Arifin dan Farid Rahman yang diharapkan mampu memajukan PSSI nyatanya semakin memperkeruh situasi. Adanya dualisme liga serta mundurnya Rahmad Darmawan dari kursi pelatih timnas menjadi puncak gunung es dari kebobrokan kinerja PSSI saat ini. Keadaan demikian hakikatnya tidak akan terjadi jika PSSI benar-benar bersih dari unsur politik. Sangatlah disayangkan, ketika masyarakat kembali melirik sepak terjang timnas Indonesia, ketika masyarakat mulai menaruh harapan kepada sepak bola Indonesia yang menunjukan talenta dan potensi yang besar, kotornya politik justru merusaknya. Apakah pantas pengurus yang sarat akan kepentingan politik dipertahankan dan dipercaya mampu menunjukan prestasi?