Langsung ke konten utama

Budaya Ngebut Maut

OLEH : FOLLY AKBAR
Alon-alon asal kelakon yang artinya pelan-pelan yang penting sampai(dengan selamat). Begitu pepatah jawa mengatakan bagi siapa saja yang hendak berkendaraan. Luar biasa nenek moyang kita mengingatkan kita generasi muda dengan sebuah ungkapan simpel namun memiliki makna yang penting bagi kita. Apapun alasanya, keselamatan menjadi hal utama yang harus diperhatikan.
Tapi saat ini masyarakat sudah tidak lagi menghiraukan pesan tersebut, indikasinya bisa kita lihat dari maraknya kecelakaan lalulintas. Yang ada dibenak masyarakat sekarang adalah “cepat atau lambat, kalo waktunya mati ya mati”. Seolah tidak belajar dari peristiwa sebelumnya, kecelakaan maut terjadi beruntun tiada akhir dari waktu ke waktu. Tak tanggung-tanggung, sekali nabrak belasan nyawa orang tidak bersalah  melayang.
Bagi masyarakat sendiri, barlalu-lintas merupakan kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Dan sudah menjadi kewajiban pemerintah sebagai penyelenggara negara untuk melindungi keselamatan warganya. Sebagaimana yang tercantum dalam UUD4. Tapi hingga saat ini pemerintah belum mampu melakukan langkah kongkrit untuk meminimalisir kecelakaan lalu-lintas yang kini menjadi rutinitas. Jika kita amati, yang dilakukan pemerintah hanya sebatas himbauan lewat spanduk usang dipinggir jalan. Apakah himbauan menjadi efektif melihat kesadaran masyarakat yang masih rendah? Tentu tidak jawabanya, harus ada regulasi yang jelas dan tegas untuk mengatur kondisi lalu lintas di lapangan.
Selama ini, mayoritas kecelakaan yang terjadi di akibatkan kelalaian sopir baik kerana ngantuk, teledor atau sengaja mengemudikan kendaraan secara ugal-ugalan. Tipe orang seperti ini tampaknya tidak akan ada jika semua pengendara memiliki SIM(Surat Ijin Mengemudi) yang didapatkan dengan cara dan prosedur yang benar. Karena dalam pembuatan SIM kita di ajari bagaimana berlalu lintas yang baik plus aturan-aturan dalam lalu lintas. Tapi kita semua tahu, saat ini kebanyakan masyarakat mendapatkan SIM dengan jalur pintas alias nyogok oknum polisi.
Meskipun terkesan sepele, budaya buruk ini harus menjadi perhatian pemerintah khususnya pihak kepolisian, karena ini menyangkut keselamatan publik. Jangan sampai karena uang dua ratus ribu, nyawa pengguna jalan lainya terancam akibat ulah seseorang yang belum layak berkendaraan.
Semoga kecelakaan yang terjadi di Bogor kemarin menjadi bahan introspeksi semua pihak mulai dari pemerintah, petugas lalu lintas hingga pengguna jalan. Karena bagaimanapun, nyawa adalah anugrah yang harus kita jaga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Penting Islam Dalam Hukum Humaniter Internasional

 Judul Buku     : Islam dan Hukum Humaniter Internasional Penulis             : Komite Internasional Palang Merah(ICRC) Penerbit           : Mizan Tahun              : 2012 Tebal halaman : XIV + 468 Halaman ISBN               : 978-979-433-696-0 Di dunia ini, benturan peradaban selalu terjadi. Tidak sedikit yang memilih kontak fisik sebagai bentuk penyelesaian. Berbagai peperangan yang bergejolak dan tercatat dalam sejarah telah mengakibatkan berbagai bencana kemanusiaan yang mengenaskan. Tengok saja konflik yang terjadi di palestina hingga saat ini, mulai dari penyerangan membabibuta -tidak mengindahkan masyarakat sipil, hingga perlakuan terhadap tawanan secara tidak man...

Terperdaya Kebutuhan Palsu

Pergerakan nilai rupiah terhadap dollar Amerika terus melemah. Mengacu pada treck record beberapa tahun terakhir,  nilai tukar rupiah saat ini -yang sempat mencapai angka 11 ribu menjadi yang terburuk dalam 4 tahun terakhir. Beberapa pengamat ekonomi bahkan mengisyaratkan jika krisis 98 sangat mungkin kembali terulang. Melihat aktivitas impor yang masih tinggi, atau bahkan semakin tinggi, melemahnya nilai tukar rupiah tentu sangat mempengaruhi situasi perekonomian nasional, mengingat posisi dollar sebagai alat transaksi utama perdagangan dunia. Kondisi ini mengakibatkan harga beberapa kebutuhan,–terlebih kebutuhan yang bergantung pada komoditas impor mengalami kenaikan.

Ayat dan Hadits Tentang Komunikasi Efektif

Bab I Pendahuluan Dalam perspektif Islam, komunikasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia karena segala gerak langkah kita selalu disertai dengan komunikasi. Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi yang islami, yaitu komunikasi berakhlak al-karimah atau beretika. Komunikasi yang berakhlak al-karimah berarti komunikasi yang bersumber kepada Al-Quran dan hadis (sunah Nabi).  Dalam Al Qur’an dengan sangat mudah kita menemukan contoh kongkrit bagaimana Allah selalu berkomunikasi dengan hambaNya melalui wahyu. Untuk menghindari kesalahan dalam menerima pesan melalui ayat-ayat tersebut, Allah juga memberikan kebebasan kepada Rasulullah untuk meredaksi wahyu-Nya melalui matan hadits. Baik hadits itu bersifat Qouliyah (perkataan), Fi’iliyah (perbuatan), Taqrir (persetujuan) Rasul, kemudian ditambah lagi dengan lahirnya para ahli tafsir sehingga melalui tangan mereka terkumpul sekian banyak buku-buku tafsir.