Langsung ke konten utama

Sadarkan Dulu Manusianya


OLEH  FOLLY AKBAR
Cagar budaya adalah tindakan konservasi terhadap benda yang dianggap memiliki nilai penting bagi sejarah dan ilmu pengetahuan. Untuk melihat sejauh mana peradaban suatu negeri dimasa lampau dapat dilihat dari sehebat apa peninggalan-peninggalan yang ditinggalkanya. Atas dasar itulah benda atau bangunan yang termasuk cagar budaya harus di jaga, di rawat dan dilestarikan.
Dalam mensiasatinya pemerintah Indonesia membuat semacam undang-undang yang kiranya dapat melindungi eksistensi suatu cagar budaya seperti UU No.5 Thn 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Dalam undang-undang tersebut dikatakan bahwa pemerintah berkewajiban untuk melindungi benda cagar budaya sebagai warisan budaya bangsa Indonesia.
Namun pada realitanya, aturan tinggalah aturan. Karena pada realitanya banyak sekali benda atau bangunan cagar budaya yang rusak tidak terurus. Selama ini, minimnya dana selalu di kambing hitamkan atas tidak maksimalnya perawatan benda cagar budaya. Namun hakikatnya, jika memang berkomitmen untuk melindungi peninggalan budaya, apapun kendalanya tidak akan masalah.
Tidak hanya sampai disitu, bahkan ada juga bangunan cagar budaya yang akan di alih fungsikan menjadi bangunan modern yang dikomersilkan. Di Surakarta contohnya eks pabrik es Saripetojo akan di rubah menjadi sebuah mall. Meskipun saripetojo belum resmi ditetapkan sebagai benda cagar budaya , tapi jika mengaca dengan Pasal 32 ayat 5 UU No 11 Tahun 2010 disebutkan “benda atau bangunan yang sedang dalam proses penetapan harus diberlakukan sebagai benda cagar budaya”. Sungguh tragis nasib peninggalan cagar budaya yang di bangun nenek moyang Indonesia justru di rubah menjadi mall.
Tentunya semua ini tidak baik jika terus di biarkan. Perlahan satu per satu benda dan bangunan cagar budaya akan habis. Dan Indonesia akan kehilangan warisan budaya yang tak ternilai. Disisi lain, anak cucu kita hanya bisa membayangkan peradaban nenek moyangnya dahulu kala tanpa bisa melihat bukti fisiknya.
Melihat fakta yang terjadi dilapangan, sebenarnya yang mengancam eksistensi cagar alam adalah sikap manusia yang kurang menghargai bahkan cenderung menyepelekan peninggalan budaya leluhurnya. Jadi hal yang perlu dibenahi terlebih dahulu adalah bagaimana menyadarkan semua elemen bangsa untuk menghargai sekecil apapun peninggalan budaya masa lalu. Ketika masyarakat sudah sadar akan pentingnya melestarikan benda cagar budaya, kendala yang sifatnya teknis akan terselesaikan dengan sendirinya.
Disinilah diperlukan peranan kelompok seperti Komite Pecinta Cagar Budaya Nusantara (KPCB) dan para budayawan untuk kembali menyadarkan semua elemen bangsa dari mulai rakyat kecil hingga pejabat. Dan yang terpenting bagaimana menyadarkan generasi muda, karena ditangan generasi mudalah masa depan suatu bangsa ditentukan kedepanya.
Dimuat Harian Jogja pada Rubik “Suara Mahasiswa” Edisi Selasa 12 Juli 2011(Tembus Ke Empat)

Komentar

Anonim mengatakan…
Nah loohh,,, Local Culture Based penting
Folly Akbar mengatakan…
apaan tu fid, ane gak paham istilah itu..haha

Postingan populer dari blog ini

Musikalisasi Lutung kasarung :Dikemas Modern, Relevan dengan Generasi Kekinian

  Musikalisasi Lutung Kasarung membuktikan bahwa sentuhan modernisasi dapat membuat cerita rakyat tetap relevan dan dinikmati lintas generasi. LUTUNG Kasarung adalah satu dari sekian kisah klasik yang kerap ditampilkan dalam pentas musikal. Namun, kolaborasi Indonesia Kaya-EKI Dance Company memiliki perspektif yang lebih modern. Musikalisasi Lutung Kasarung yang dipentaskan di Galeri Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta itu menyuguhkan kisah legendaris dengan sentuhan lebih segar. Konsepnya dapat memikat generasi muda tanpa meninggalkan akar budaya dan pesan moral. Mengambil latar Kerajaan Pasir Batang, pertunjukan itu mengisahkan seekor monyet ajaib yang menolong Putri Purbasari. Alur klasik itu berkelindan dengan properti canggih di panggung. Salah satunya kehadiran layar LED yang membangun nuansa hutan rimbun, istana, dan dinamika suasana lewat teknologi proyeksi visual. Musik pun begitu. Bebunyian khas Sunda dan musik lain berpadu harmonis dengan irama elektronik serta o...

Peran Penting Islam Dalam Hukum Humaniter Internasional

 Judul Buku     : Islam dan Hukum Humaniter Internasional Penulis             : Komite Internasional Palang Merah(ICRC) Penerbit           : Mizan Tahun              : 2012 Tebal halaman : XIV + 468 Halaman ISBN               : 978-979-433-696-0 Di dunia ini, benturan peradaban selalu terjadi. Tidak sedikit yang memilih kontak fisik sebagai bentuk penyelesaian. Berbagai peperangan yang bergejolak dan tercatat dalam sejarah telah mengakibatkan berbagai bencana kemanusiaan yang mengenaskan. Tengok saja konflik yang terjadi di palestina hingga saat ini, mulai dari penyerangan membabibuta -tidak mengindahkan masyarakat sipil, hingga perlakuan terhadap tawanan secara tidak man...

Ida Budhiati, Mantan Anggota KPU-DKPP yang Rajin Memberikan Edukasi Pemilu

Bicara pemilu, sulit untuk melupakan sosok Ida Budhiati. Perempuan asal Semarang ini cukup lama berkecimpung di lembaga penyelenggara pemilu. Mulai KPU (Komisi Pemilihan Umum) hingga DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu).  Nah, apa kesibukannya setelah tak lagi di dua lembaga tersebut? Setelah selesai di DKPP RI tahun 2022, apa aktivitas ibu sekarang? Saya mengajar di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Jadi aktivitasnya ya mengajar di kampus, kemudian diskusi sama mahasiswa. Terus melakukan kegiatan pengabdian masyarakat dan melakukan penelitian, menulis jurnal ilmiah. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat banyak tuh yang masih berkaitan dengan isu pemilu dan demokrasi. Misalnya apa saja? Kita masih sering bekerja sama dengan KPU, Bawaslu, DKPP, membangun awareness masyarakat dalam bentuk kegiatan pendidikan pemilih untuk berpartisipasi melakukan pengawasan. Kemudian melakukan advokasi representasi keterwakilan perempuan bersama dengan para penggiat pemilu. Juga me...